Rasa sakit dari anak panah perak Elara yang menancap di bahu Kael Draven terasa seperti api yang mencoba melahap jiwanya, namun sang Alpha King bahkan tidak mengerang. Ia berdiri tegak dengan mata yang kini sepenuhnya berwarna ungu gelap, aura Pencabut Nyawa menyelimuti dirinya seperti baju zirah yang tak tertembus. Di belakangnya, Lyra mendekap erat sang bayi yang baru lahir, aroma mawar hitamnya kini berubah menjadi aroma perlindungan yang sangat pekat, melindungi sang pewaris dari hawa dingin kuil.Kael menatap Elara dengan pandangan yang sanggup meruntuhkan nyali klan pemburu manapun. Posesifitasnya terhadap Lyra kini berlipat ganda karena keberadaan sang anak. Baginya, mereka berdua adalah bukti kekuasaannya yang mutlak atas takdir. Kael tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan bibi Lyra sendiri, untuk mengambil kebahagiaan yang baru saja ia perjuangkan di tengah genangan darah."Kau baru saja menandatangani surat kematian seluruh klanmu, Elara," desis Kael dengan suara yang terde
Read more