แชร์

BAB 27

ผู้เขียน: Jw Hasya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-03 06:43:26

Hening malam di pinggiran hutan terlarang itu seolah membeku, memberikan ruang bagi detak jantung dua insan yang baru saja menanggalkan topeng keputusasaan mereka. Di dalam bangunan tua yang hanya diterangi rembulan, atmosfer yang tadinya mencekam karena ancaman kematian, kini berubah menjadi medan magnet yang sarat akan ketegangan seksual dan emosi yang meluap.

Allard menatap Satta dengan intensitas yang mampu menghanguskan. Keberanian wanita itu untuk tetap tinggal di sisinya, meski ia tahu A
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (7)
goodnovel comment avatar
Marimar
semoga kutukan segera berakhir
goodnovel comment avatar
Iin Huang
semoga kutukan itu akan hilang dan tumbuh lah junior Allard elena.
goodnovel comment avatar
Lita Ashari
toh, mereka udan mulai bisa menerima satu sama lain
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 76

    Malam jatuh di Lembah Valeria bukan dengan selimut bintang yang tenang, melainkan dengan kegelapan yang pekat dan menyesakkan. Bau tanah yang dipacu derap kuda dan amis darah Jhonatan masih tertinggal di udara, seolah-olah alam pun menolak untuk membasuh sisa-sisa amarah Sang Raja Alderaan. Di dalam pondok kayu yang sederhana, cahaya lilin menari-nari di dinding, memantulkan bayangan Satta yang sedang sibuk membasuh luka di wajah Jhonatan.Tangannya gemetar. Setiap kali kain basah itu menyentuh luka robek di pelipis atau lebam ungu di rahang Jhonatan, hati Satta berdenyut perih. Jhonatan adalah pria yang memberikan napas kedua baginya, pria yang memilih untuk menanggung beban aib yang tidak ia perbuat demi melindunginya dari cemoohan dunia. Dan hari ini, pria itu hampir kehilangan nyawanya hanya karena ia mencintai wanita yang "dimiliki" oleh seorang tiran."Maafkan aku, Jhonatan... Ini semua salahku," bisik Satta, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. Air matanya jatuh, mend

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 75

    Lembah Valeria yang biasanya dilingkupi kedamaian musim gugur mendadak berubah mencekam. Kabar tentang pernikahan Satta dan sang tabib Jhonatan ternyata tidak hanya berhenti di telinga para penduduk desa. Melalui jaringan mata-mata yang selama ini memantau dari kegelapan, berita itu terbang secepat elang menuju singgasana Alderaan.Bagi Allard, mendengar Satta hidup dalam keselamatan adalah satu hal. Namun, mendengar wanita yang masih merupakan istri sahnya secara agama dan hukum—wanita yang kulitnya pernah ia tandai dengan gairah dan janji—kini bersanding di altar dengan pria lain, adalah racun yang membakar kewarasannya.Sore itu, langit Valeria tidak lagi berwarna jingga, melainkan abu-abu gelap yang merayap turun dengan cepat. Satta sedang duduk di teras, memperhatikan Jhonatan yang dengan telaten membuat pagar kayu baru untuk melindungi Abraham yang mulai aktif merangkak. Status mereka kini telah berubah, namun kecanggungan itu masih ada. Jhonatan tetap menjaga jarak yang penuh h

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 74

    Kabut tipis menyelimuti Lembah Valeria saat fajar menyingsing, namun suasana di kedai kopi pusat desa terasa lebih panas dari biasanya. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bernama Silas—yang ladangnya berbatasan langsung dengan kebun anggur Jhonatan—sedang berbisik dengan nada penuh selidik kepada Tetua Desa, seorang pria tua berwajah keriput namun memiliki wibawa yang tak terbantahkan bernama Bapak Arga."Saya sudah memperhatikannya selama berbulan-bulan, Pak Arga," desis Silas. "Cara Jhonatan menatap wanita itu bukan tatapan seorang kakak kepada adiknya. Ada pemujaan yang terlalu dalam. Dan anak itu... bayi itu tidak memiliki kemiripan sedikit pun dengan Jhonatan. Valeria adalah tanah yang diberkati, kita tidak bisa membiarkan kebohongan tumbuh di sini. Jika mereka tinggal satu atap tanpa ikatan suci, itu adalah aib bagi lembah kita."Tetua yang bernama Arga mengusap janggut putihnya, matanya menerawang. Selama ini, Jhonatan dikenal sebagai tabib yang jujur dan Satta—atau Elen

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 73

    Angin musim gugur di Lembah Valeria kini berembus lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan fermentasi buah anggur yang mulai matang. Di balik dinding kayu pondok yang hangat, surat dari Allard masih tergeletak di atas meja, seolah-olah kertas kecil itu memiliki berat ribuan ton yang menekan atmosfer di dalam ruangan.Satta masih terpaku di kursinya. Matanya yang sembap menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya berada jauh di balik pegunungan tinggi Alderaan. Kalimat pendek dari Allard bukan sekadar pertanyaan tentang putra mereka, melainkan sebuah pengakuan bisu bahwa sang Raja masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya sendiri.Jhonatan masuk ke dalam rumah setelah menyelesaikan tugasnya membelah kayu. Ia sengaja membuat suara gaduh dengan meletakkan tumpukan kayu bakar di dekat perapian agar Satta tidak merasa terkejut oleh kehadirannya. Namun, kesunyian yang menyambutnya terasa begitu pekat. Ia melihat Satta, wanita yang selama lima bulan ini ia lindungi dengan segenap

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 72

    Musim gugur mulai mewarnai lembah Valeria dengan rona jingga dan cokelat kemerahan. Lima bulan telah berlalu sejak derap kaki kuda Raja Allard menghilang di balik kabut fajar. Kehidupan di pondok tepi kebun anggur itu kembali tenang, setidaknya di permukaan. Anak laki-laki Satta, yang ia beri nama Abraham tumbuh menjadi bayi yang sehat dan penuh tawa—satu-satunya pelita yang mengusir sisa-sisa trauma dalam jiwa ibunya.Jhonatan masih menjadi sosok yang tak tergantikan. Setiap pagi, ia tetap pergi ke hutan atau pasar, namun kini kepulangannya selalu disambut oleh aroma masakan sederhana dan tawa bayi yang menggema. Bagi penduduk Valeria, mereka adalah pasangan harmonis yang sedang membangun hidup dari puing-puing kemalangan. Namun, di dalam dinding kayu pondok itu, ada garis yang tak kasat mata namun sangat tegas.Saat sore merangkak naik, Jhonatan duduk di teras sambil memperbaiki sebuah mainan kayu kecil untuk Abraham. Dari dalam rumah, ia bisa mendengar Satta sedang menyanyikan sena

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 71

    Suara tangisan bayi itu masih bergema halus di dalam pondok, bersahutan dengan rintik hujan yang memukul atap rumbia. Satta memeluk bungkusan kecil di lengannya dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bayi itu—putranya—memiliki sejumput rambut gelap dan kulit yang kemerahan. Saat jemari kecil sang bayi mencengkeram kain linen kasar yang membungkusnya, Satta merasa seolah seluruh luka di masa lalunya mulai menutup, meski bekasnya akan selalu ada.Jhonatan berdiri di dekat jendela, menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. Matanya melembut menatap pemandangan di atas ranjang. "Dia memiliki matamu, Satta," bisik Jhonatan. "Teduh, namun menyimpan kekuatan badai."Satta tersenyum lemah, namun senyum itu membeku ketika telinga Jhonatan menangkap sesuatu yang asing. Di luar, suara rintik hujan mendadak tenggelam oleh derap kaki kuda yang berat dan teratur. Bukan satu atau dua, melainkan puluhan. Suara logam yang beradu dan perintah-perintah pendek yang tajam mulai me

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 13

    “Cepat keluar, Elena ….” Perintahnya saat sang kaisar telah pergi. Satta segera keluar, sebelum langkahnya mendekati Allard, gadis itu segera memungut celana dalamnya yang semoat berserak di atas lantai. Dengan wajah merah menahan malu, Satta kemudian mendekat dan segera pamit pada Allard. Na

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 12

    Ujung jemari Allard memasuki lembah belukar milik Satta dengan begitu lembut. Membuat gadis itu mendesah penuh hasrat. Saat satu jari sukses masuk, tubuhnya menggelinjang. “Nikmatilah, kau harus tahu jika surga dunia itu nyata, Elena ….” Satta memejamkan matanya, sesekali membeliak hanya ters

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 14

    Satta tertegun cukup lama saat melihat melihat kondisi Allard yang begitu mengenaskan. Wajah pemuda itu sudah sepenuhnya ditutupi oleh darah. Satta kemudian berjongkok dan meraih tubuh pria itu dengan penuh kehati-hatian. “Kenapa kau bisa seperti ini, Allard?” Tangisannya oecah, saat melihat keada

  • Menjadi Tawanan Rubah Tampan   BAB 19

    Ruangan yang semula begitu berisik akibat dari suara Satta, kini tiba-tiba senyap. Langkah kaki dengan tubuh kekar dan menjulang berjalan mendekat. Matanya menatap Satta dengan tatapan penuh intimidasi. “A-Allard?!” Satta menatap keheranan. “Kenapa kau melakukan ini?” Air matanya berlinang. Ya, p

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status