Madun merasa sekarang saatnya mengabdi sebagai marbot masjid demi ketenangan iman yang hakiki!" gumam Madun sambil mengibas sajadah beludru di teras depan. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kehidupan barunya yang sangat alim, adem, dan sederhana setelah resmi meninggalkan seluruh masa lalu liarnya di perantauan demi menjadi pemuda saleh dambaan rukun warga."Mas Madun, ini mukena dan sarung titipan Pak Ustaz sudah saya cuci bersih, tolong ditaruh di lemari saf depan ya!" panggil Fatimah, putri tunggal pak kiai setempat yang berjalan interaktif mendekati serambi masjid dengan nampan kayu di tangannya. Gadis berhijab itu sengaja memajukan langkah halusnya hingga bayangan tubuhnya yang sintal dan padat berisi nampak bergoyang lembut tertimpa cahaya matahari pagi, membuat anyaman bambu pembatas saf berguncang pelan.Visual Fatimah di area pelataran masjid yang sejuk
Magbasa pa