تسجيل الدخول"Iring-iringan truk tronton pengembang swasta itu sudah sampai di ujung jembatan kelurahan, saatnya kita beri peringatan paling keras fajar ini agar siapapun tidak ada yang berani mengganggu kedaulatan tanah sawah desa kita!" seru Madun lantang sambil memegang obor bambu yang menyala benderang di tangannya. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, memimpin blokade ratusan pemuda desa untuk menghentikan laju tiga truk tronton raksasa pengangkut ekskavator tepat di pintu masuk perbatasan desa subuh ini."Benar Mas Madun, kalau tiga truk tronton itu tidak kita eksekusi dengan aksi bakar barikade darurat di tempat sekarang, mereka akan merubuhkan patok sawah rukun tetangga kita besok pagi!" sahut Sekar yang berjalan interaktif di barisan depan sambil membawa botol berisi cairan bahan bakar minyak bersama warga. Gadis pejuang desa itu sengaja memajukan langkah beraninya hingga lekuk
"Petugas penyuluh lapangan kemarin ternyata salah membawa papan pengumuman, penggusuran itu sebenarnya dipicu oleh ulah makelar tanah yang memalsukan surat izin kelurahan untuk membangun gudang swasta besok pagi!" seru Madun dengan suara bariton yang tegas di tengah kepungan warga yang panik. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, mengumpulkan seluruh pemuda karang taruna dan tetua adat demi menyusun rencana pembelaan hukum darurat atas tanah warisan leluhur mereka fajar ini."Betul Mas Madun, kalau besok pagi alat berat ekskavator itu sempat menyentuh pembatas pematang, seluruh mata pencaharian petani di rukun tetangga kita bisa musnah dalam sekejap!" sahut srikandi desa bernama Sekar yang berjalan interaktif membawa dokumen rincian sertifikat tanah milik warga ke atas meja posko. Gadis anak kepala dusun itu sengaja memajukan langkah tegapnya hingga lekuk tubuhnya yang sintal
Warga resah ada masalah saluran air sawah tersumbat sampah yang bikin petani mau baku hantam fajar ini," seru Madun menepuk jidatnya sambil memegang cangkul besi besar di tepi pematang. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar demi melerai pertikaian warga soal pembagian air irigasi."Benar Mas Madun, kalau air sawah tidak mengalir merata karena sumbatan sampah di hulu, tanaman padi di rukun tetangga kita bisa fuso and gagal panen massal bulan depan!" sahut Lastri, putri ketua kelompok tani yang berjalan interaktif menyusuri pematang sawah sambil membawa bakul nasi sarapan. Gadis desa berkulit bersih itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga tubuhnya yang sintal padat berisi nampak sedikit limbung tergelincir lumpur, membuat caping bambunya jatuh ke pangkuan.Visual Lastri di tengah hamparan sawah hijau yang disiram cahaya fajar itu bener-bener menjelma menjadi pemandangan
"Alhamdulillah, urusan sengketa tanah kemarin sudah beres tanpa sisa, sekarang saatnya saya fokus jantan menggerakkan pemuda karang taruna demi melawan teror rentenir kelurahan sebelah!" seru Madun lantang sambil mengebrak meja pos ronda dengan kepalan tangan kekarnya. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi peran barunya sebagai pelindung warga sekaligus ketua karang taruna yang selalu siap menjadi tameng bagi masyarakat desa fajar ini."Hidup Mas Madun! Kalau tidak ada wadah pemuda and perlindungan dari kamu, mungkin seluruh tabungan emak-emak di rukun tetangga kita sudah habis diperas lintah darat itu!" puji Ratna, bendahara karang taruna yang baru saja selesai mendata kas warga, sambil berjalan interaktif membawakan segelas kopi jahe hangat ke atas meja ronda. Gadis desa bertubuh sintal itu sengaja memajukan langkah gemulainya hingga lekuk tubuhnya yang padat beris
Madun berusaha mengabdi membantu bapak-bapak memperbaiki jembatan desa yang bolong . Madun memanggul sebatang pohon kelapa utuh sendirian tanpa bantuan alat berat. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kesibukan barunya dalam kegiatan sosial kemasyarakatan yang penuh tantangan demi membawa kedamaian murni di tanah kelahirannya fajar ini."Aduh Mas Madun, untung ada kuli panggul perkasa seperti kamu, kalau tidak mungkin kerja bakti memperbaiki fasilitas umum warga ini bisa mangkrak berbulan-bulan!" puji sekertaris desa baru bernama lndah yang berjalan interaktif membawa baki berisi es teh manis menuju lokasi gotong royong. Gadis kota yang baru pindah dinas itu sengaja memajukan langkah tegapnya hingga lekuk tubuhnya yang sintal padat berisi nampak memantul indah di bawah terik matahari pagi, membuat papan kayu jembatan yang diinjaknya ikut bergetar manja.Visual Inda
Madun merasa sekarang saatnya mengabdi sebagai marbot masjid demi ketenangan iman yang hakiki!" gumam Madun sambil mengibas sajadah beludru di teras depan. Madun yang memiliki wajah tampan dengan rahang tegas and hidung mancung langsung menegakkan punggung tegapnya yang kekar sekuat tiang beton pasar, meresapi kehidupan barunya yang sangat alim, adem, dan sederhana setelah resmi meninggalkan seluruh masa lalu liarnya di perantauan demi menjadi pemuda saleh dambaan rukun warga."Mas Madun, ini mukena dan sarung titipan Pak Ustaz sudah saya cuci bersih, tolong ditaruh di lemari saf depan ya!" panggil Fatimah, putri tunggal pak kiai setempat yang berjalan interaktif mendekati serambi masjid dengan nampan kayu di tangannya. Gadis berhijab itu sengaja memajukan langkah halusnya hingga bayangan tubuhnya yang sintal dan padat berisi nampak bergoyang lembut tertimpa cahaya matahari pagi, membuat anyaman bambu pembatas saf berguncang pelan.Visual Fatimah di area pelataran masjid yang sejuk
"Gimana kalau... kita kerja sama saja, Siska?" bisik Sarah dengan nada menggoda. Matanya tidak lepas dari gundukan di balik celana Madun yang tampak berdenyut kaku. "Satu pasien, dua bidan. Biar racun semutnya benar-benar habis total sampai ke akar-akarnya."Siska terdiam sejenak, lalu melirik Sara
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







