Suasana di balik rimbunnya rumpun bambu sore itu perlahan kembali tenang, menyisakan deru napas yang memburu dan desiran angin yang menyejukkan. Nabila, si gadis alim, pendiam, dan siswi teladan yang tadinya paling keras memasang benteng pertahanan, kini terkulai lemas bersandar pada batang bambu besar. Wajah cantiknya yang polos tampak merona merah padam, dengan keringat tipis yang membasahi kening dan leher jenjangnya. Jilbab putih bersih yang tadinya dikenakan dengan sangat rapi kini sedikit berantakan, dan seragam sekolahnya tampak kusut akibat dekapan erat sang jagoan desa. Namun, pemandangan yang paling mengejutkan bukanlah kondisi fisiknya, melainkan perubahan drastis pada tatapan matanya. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata ketakutan, rasa bersalah, atau penyesalan seperti saat ia menendang Madun malam sebelumnya. Yang terpancar dari mata jernih Nabila kini adalah binar kepuasan yang mendalam, rasa penasaran yang telah terjawab, serta pancaran nafsu tersembunyi yang baru saj
Read more