Home / Urban / Pusaka Warisan Semut Rangrang / Bab 328: Ketika Nabila Ketagihan

Share

Bab 328: Ketika Nabila Ketagihan

Author: Ibrahiman
last update publish date: 2026-08-10 14:43:28
​Suasana di balik rimbunnya rumpun bambu sore itu perlahan kembali tenang, menyisakan deru napas yang memburu dan desiran angin yang menyejukkan. Nabila, si gadis alim, pendiam, dan siswi teladan yang tadinya paling keras memasang benteng pertahanan, kini terkulai lemas bersandar pada batang bambu besar.

​Wajah cantiknya yang polos tampak merona merah padam, dengan keringat tipis yang membasahi kening dan leher jenjangnya. Jilbab putih bersih yang tadinya dikenakan dengan sangat rapi kini sedik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 76: Klimaks Brutal

    ​Puncak dari segala ketegangan malam itu akhirnya tiba di ambang batas yang paling membakar. Jaka, yang sejak tadi menahan diri dengan memperhitungkan setiap hantaman, kini merasakan seluruh sistem saraf di kepalanya mendidih. Pemandangan puting pink yang semakin merona terang, rintihan putus asa Icih, serta jepitan liang intim yang terasa begitu panas dan basah membuat akal sehatnya benar-benar runtuh seketika.​"Sial... aku sudah tidak tahan lagi, Neng! Terima semuanya sampai tuntas!" raung Jaka dengan suara serak yang menggelegar di dalam ruangan sempit tersebut.​Tempo pergerakan Jaka berubah menjadi hantaman brutal tanpa pola yang beraturan—sebuah genjotan maut berkecepatan tinggi yang membuat tubuh Icih terdorong-dorong ke depan dengan liar. Setiap tikaman dari batang kejantanannya yang berukuran 40 cm menghujam masuk hingga ke batas maksimal, menciptakan sensasi wadaw yang luar biasa dahsyat di dalam inti tubuh sang kembang desa.​"Aaaaaah... ya ampun, Kang! Wadaw... asoy bange

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 75: Remasan Gemes

    ​Udara malam Pesisir Probolinggo seolah ikut bergetar menyaksikan bagaimana dua manusia di dalam gudang arsip sempit itu terus menerus merajai batas kewarasan mereka. Setelah rentetan hantaman brutal dan sedotan beringas yang membuat puting pink Icih semakin merona merah terang, Jaka masih belum berniat memberikan jeda sedikit pun bagi sang kembang desa untuk menarik napas panjang.​Melihat ekspresi wajah Icih yang setengah terpejam dengan bibir sedikit terbuka menahan sisa kejang kenikmatan, gelombang rasa gemas yang luar biasa tiba-tiba menghantam dada sang mantan agen. Rasa gemas seorang Agent Tomcov tentu saja bukan rasa gemas biasa—itu adalah dorongan fisik yang liar dan penuh tenaga.​"Gila... kamu benar-benar bikin aku gemas setengah mati, Neng!" desis Jaka dengan suara serak yang sarat akan nafsu membara.​Tanpa aba-aba, kedua tangan besar Jaka langsung merangsek naik, membungkus kedua gundukan kenyal milik Icih dengan cengkeraman yang kuat dan penuh rasa gemas. Jari-jarinya y

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 73: Puting Pink Bikin Ngiler

    ​Malam di Pesisir Probolinggo semakin larut, namun udara di dalam gudang arsip sempit itu justru terasa kian membakar. Sisa-sisa napas yang tadinya mulai teratur kembali memburu tak beraturan. Jaka, yang tadinya sempat merenggangkan jarak untuk mengatur tenaga, kembali menundukkan pandangannya. Dan di situlah letak godaan terbesarnya—dua buah puting pink ranum milik Icih yang masih berdiri tegak menantang udara malam, basah oleh sisa peluh dan cairan, benar-benar membuat Agent Tomcov merasa mupeng (muka pengen) setengah mati.​Pemandangan visual yang sangat erotis itu langsung menyulut kembali api gairah yang sempat mereda. Warna merah muda yang cerah di atas kulit eksotis Icih bagaikan magnet tak kasat mata yang menarik kepala Jaka turun kembali ke dada sang gadis.​"Astaga, Neng... puting pink itu benar-benar tidak ada obatnya. Bikin aku mupeng dan ingin menghajarmu lagi sampai pagi," desis Jaka dengan suara serak penuh nafsu.​Icih mendesah manja, punggungnya melengkung ke atas men

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 352: Kerokan Bikin Tegang

    Suasana di dalam kamar utama istana RM Jagoan Rasa diselimuti oleh keheningan malam yang pekat. Di atas ranjang king-size berseprai satin hitam, Vanesha dan Gendis terbaring lemas dalam pelukan kelelahan yang luar biasa setelah badai penyekapan mutlak mereda beberapa jam sebelumnya.​Namun, di tengah sisa-sisa kehangatan malam itu, Madun—sang jagoan desa Menteng—merasa ada sedikit rasa tidak nyaman di sekujur punggungnya. Angin malam Menteng yang sempat masuk melalui celah ventilasi terbuka membuat otot-otot di sekitar belikatnya terasa kaku dan sedikit pegal akibat aktivitas fisik luar biasa yang ia lakukan seharian penuh.​Madun bangkit duduk di tepi ranjang, merenggangkan bahunya yang bidang. Ia menoleh ke arah Vanesha yang masih memejamkan mata, lalu menepuk pelan paha istrinya.​"Vanesha, bangun sebentar. Punggung saya rasanya agak meriang kena angin malam. Ambilkan koin sama minyak kayu putih, keroki punggung saya dulu," perintah Madun dengan suara baritonnya yang berat dan berw

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 351: Disekap Nikmat

    ​Pukul 23.30 WIB. Suasana di luar istana RM Jagoan Rasa telah sepenuhnya tenggelam dalam keheningan malam Menteng. Lampu-lampu jalan memancarkan pendar kuning redup yang membias di balik jendela kaca kamar utama. Di dalam ruangan luas berlantai kayu jati tua tersebut, batas antara dunia nyata dan belenggu gairah mutlak dileburkan dalam sebuah skenario penahanan yang sangat erotis dan memabukkan.​Vanesha, sang istri sah, tidak lagi hanya sekadar berbaring atau bergerak aktif di atas ranjang. Malam itu, ia berada dalam status disekap nikmat oleh sang penguasa desa. Kedua pergelangan tangannya diikat longgar namun terkunci mati menggunakan syal sutra merah marun ke kepala ranjang kayu jati, sementara kedua kakinya dibentangkan lebar dan diikat melingkar ke sisi tiang ranjang bawah.​Ia tidak bisa bergerak ke mana-mana. Seluruh tubuhnya sepenuhnya pasrah, menjadi tawanan sukarela dari dominasi mutlak suaminya.​Di hadapan tubuh Vanesha yang tak berdaya namun basah oleh peluh dan rona naf

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 350: Pijitan Manja

    Pukul 17.00 sore. Menteng perlahan-lahan mulai beralih menuju senja. Cahaya jingga kemerahan menembus celah-celah ventilasi gudang penyimpanan rempah RM Jagoan Rasa, menyinari ruangan tempat badai kenikmatan baru saja mereda.​Madun perlahan bangkit dari tindihannya yang masif. Pria jagoan desa itu merenggangkan otot-otot dadanya yang bidang, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Mahakarya mutasi rawa lele sepanjang empat puluh sentimeter miliknya yang baru saja menuntaskan tugas berat kini perlahan merileks, kembali beristirahat di dalam celana pendek training hitamnya.​Di bawahnya, Gendis terbaring lemas di atas terpal plastik dengan mata terpejam rapat. Napas siswi SMA berusia tujuh belas tahun itu naik turun perlahan, menandakan ia telah jatuh ke dalam tidur kelelahan yang sangat pulas setelah dihantam rangkaian sesi pergulatan tanpa henti sejak siang tadi. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, dengan sisa-sisa cairan kenikmatan yang mengering di paha mulusnya.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 2: Lastri sang Penggoda

    ​"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. ​Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status