"Mas Madun! Tolongin Peni dong, rantai sepedanya lepas, tangan Peni kotor semua," teriak Peni dari gerbang pasar. Madun menoleh dan langsung terpaku. Peni, gadis baru lulus SMA, berdiri dengan celana pendek ketat. Pahanya putih mulus, kencang, bening seperti porselen. Visual itu maut. Madun mendekat, otot lengannya menonjol saat berlutut membetulkan rantai. Bau oli bercampur keringat kuli langsung menyergap. Peni membungkuk, pinggang ramping dan pusar mungilnya terlihat jelas. "Tangan kuli emang kuat ya, Mas?" bisik Peni nakal, suaranya mendesah pelan. Madun menelan ludah. "Hati-hati, Pen. Jangan deket-deket. Nanti rantainya nyangkut." Belum sempat Madun berdiri, Rini muncul membawa rantang. Matanya menyipit melihat pemandangan itu. "Mas Madun, jangan kelamaan benerin sepeda. Nanti 'rantai' Mas sendiri yang lepas!" Peni tertawa manis, tidak merasa bersalah. "Mbak Rini, Mas Madun jago banget benerin rantai. Nanti sore mampir ya Mas, Ibu lagi ke kota. Peni mau belajar tekn
Terakhir Diperbarui : 2026-05-08 Baca selengkapnya