"Mas Madun, liat itu! jajanan favoriku," seru Rini sambil menunjuk tukang gulali yang sedang memutar mesin pembuat gula kapas. "Iya, Rin," jawab Madun. "Bang, beli satu ya! Yang paling gede, biar puas makannya!" Rini memesan dengan suara manja. Setelah gulali besar itu jadi, Rini langsung mencubit sedikit dan menyuapkannya ke mulut Madun. "Gimana Mas? Manis nggak?" Madun mengunyah pelan. Tiba-tiba tatapan matanya kosong. Dia melihat gulali di tangan Rini, lalu melihat ke arah kerumunan anak kecil yang digandeng bapaknya. Setitik air mata jatuh di pipinya yang kasar. "Lho, Mas Madun? Kok malah nangis? Giginya sakit kena gula?" tanya Rini panik. "Bukan, Rin... saya cuma teringat almarhum bapak," suara Madun parau. "Dulu waktu saya masih kecil, bapak sering manggul saya di pundaknya cuma buat beli gulali begini. Bapak orang kecil, kuli juga kayak saya, tapi kalau soal nyenengin anaknya, dia paling nomor satu." Rini terdiam. Wajahnya yang cantik berubah jadi sendu. Dia me
Last Updated : 2026-04-27 Read more