แชร์

Bab 37: Jamu Kuat di Warung Kopi

ผู้เขียน: Ibrahiman
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-07 08:01:09

"Mas Madun, pelan-pelan dong jalan itu! Masih gemetar ya kakinya habis dikeroyok dua bidadari tadi malam?" goda Rini sambil menarik ujung sarung Madun saat mereka berpapasan di gang sempit dekat pasar.

Madun menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Rini sambil membetulkan posisi kaos singletnya yang ketat, memperlihatkan otot bisepnya yang keras dan berurat. "Bukannya gemetar, Rin. Ini namanya langkah pria perkasa yang sedang menjaga keseimbangan linggis beton supaya tidak tumpah energinya."

Ri
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 262: Rindu yang Meletup

    ​Malam di desa itu terasa sangat pekat. Di dalam ruko kecilnya yang kini sunyi tanpa kehadiran keramaian, Madun mondar-mandir mondar-mandir tidak jelas. Rokok kretek di jarinya sudah habis tiga batang dalam waktu setengah jam, tapi rasa gelisah di dadanya sama sekali tidak mereda. Pria berbadan bidang itu mendengus kasar, menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya.​"Sialan," gumam Madun pelan. "Kenapa sepi banget rasanya semenjak nggak ada suara teriakan 'babi' itu?"​Ya, Madun kangen. Kangen setengah mati pada Rara.​Setelah insiden lempar piring nasi goreng ke lampu minyak warung Pak Kumis tiga hari lalu, mereka sempat berpisah sementara untuk menghindari razia besar-besaran dari Pak RT dan pasukannya. Madun memilih bersembunyi di ruko, sementara Rara kabur ke rumah bibinya di seberang kecamatan. Dan sekarang, jarak beberapa kilometer itu terasa seperti neraka yang menyiksa batin sang jagoan desa.​Di sisi lain, bertempat di kamar sebuah rumah berdinding bilik bambu yang terle

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 261: Petaka Celana Hilang dan Ritual Monyet Liar di Puncak Bukit

    ​Matahari sudah sepenggalah tingginya. Madun dan Rara terbangun dengan tubuh pegal luar biasa, sisa-sisa "kegilaan" mereka semalam masih membekas di setiap jengkal otot. Namun, keheningan rimba yang romantis itu mendadak buyar ketika Rara meraba-raba ke sekeliling dengan mata masih terpejam.​"Bang... Babi, celana gua mana?" tanya Rara santai, mengira celananya hanya terselip di balik batu besar tempat mereka bercumbu semalam.​Madun yang sedang asyik memetik daun sirih untuk dijadikan alas duduk, mengerutkan dahi. Ia ikut mencari. "Lho, bukannya lu lepas pas kita lagi 'terbang' tadi? Perasaan gue liat lu lempar ke semak-semak sebelah pohon beringin."​Mereka berdua berjalan menuju pohon beringin tua yang rindang. Namun, apa yang mereka temukan di sana bukanlah celana jeans Rara, melainkan seekor monyet ekor panjang yang sedang duduk pongah. Di tangannya, monyet itu memegang celana jeans Rara—lengkap dengan gespernya yang gemerincing—dan celana kain Madun yang semalam ia tanggalkan de

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 260: Tarian Hasrat di Balik Kabut Rimba

    ​Di puncak bukit yang diselimuti kabut tipis subuh, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada lagi suara teriakan Nabila, tidak ada lagi gedoran sapu lidi di pintu ruko, dan tidak ada lagi pandangan menghakimi dari warga desa. Hanya ada Madun dan Rara, dua jiwa yang terikat dalam pelarian paling liar yang pernah mereka jalani.​Mereka duduk di atas hamparan rumput basah yang dingin, namun suhu di antara keduanya justru membakar. Rara menatap Madun dengan tatapan yang jauh dari kesan ceplas-ceplos biasanya. Sisa-sisa adrenalin dari pelarian dramatis tadi malam masih terasa, mengubah setiap sentuhan menjadi aliran listrik yang konstan.​"Ternyata begini ya rasanya jadi buronan," bisik Rara pelan, jarinya menelusuri garis otot di dada Madun yang bidang dan kokoh. "Deg-degan, tapi... bikin ketagihan, Babi."​Madun menangkap tangan Rara, menggenggamnya erat, lalu menatap lurus ke dalam mata gadis itu. "Pelarian ini bukan tentang lari dari sesuatu, Rara. Ini tentang menemukan tempat di mana

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 259: Pelarian Dramatis:

    ​Suasana di depan pintu ruko mendadak beku. Nabila berdiri dengan sapu lidi di tangan, napasnya memburu, dan matanya yang biasanya manis kini memancarkan api kecemburuan yang sanggup membakar seisi desa. Di belakang Madun, Rara justru duduk bersandar di dinding kamar dengan gaya santai sambil memetik kutu, tertawa kecil melihat drama yang baru saja dimulai.​"Madun!" teriak Nabila, suaranya melengking tinggi, memecah ketenangan pagi. "Siapa perempuan itu?! Kenapa dia ada di kamar kita?! Dan kenapa... kenapa suaranya kedengeran sampe ke warung depan?!"​Madun menelan ludah. Ia melirik sekilas ke arah Rara yang hanya mengangkat bahu, seolah berkata, 'Lu yang urus, Babi!'​"Nab, dengerin dulu... ini nggak seperti yang kamu bayangin," jawab Madun dengan suara yang berusaha setenang mungkin, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.​"Nggak seperti yang dibayangin gimana?! Aku denger semuanya! Kuda Terbang! Babi! Crot! Kamu pikir aku budek?!" Nabila mengayunkan sapu lidinya ke udar

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 258: Gaya Kuda Terbang

    ​Matahari baru saja memanjat pucuk pohon kelapa di belakang ruko tempat Madun biasa mangkal. Pagi itu, suasananya tenang, hingga tiba-tiba suara knalpot motor racing yang memekakkan telinga merobek kesunyian. Sebuah motor sport merah berhenti mendadak tepat di depan pintu ruko.​Rara turun dengan gaya khasnya. Jaket kulit hitam, celana ketat, dan wajah yang tampak sangat tidak sabaran. Ia langsung menendang pintu ruko tanpa permisi.​"Woi, Babi! Bangun lu, jagoan kampung!" teriak Rara menggelegar.​Madun yang sedang asyik menyesap kopi hitam tersedak. Ia menatap Rara dengan pandangan kesal. "Apa-apaan sih, Rara? Pagi-pagi udah teriak-teriak kayak orang kesurupan. Babi banget kelakuan lu."​Rara melangkah masuk, duduk di kursi kayu di hadapan Madun, lalu menyilangkan kakinya dengan angkuh. "Gak usah sok suci, Bang. Gua kesini bukan mau denger ceramah sampah lu, Babi!"​"Terus mau apa? Mau minta digebuk lagi?" tanya Madun dingin.​Rara memajukan wajahnya, menatap mata Madun lekat-lekat.

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 257: Duel Mulut Berujung Klimaks

    ​Malam itu, setelah insiden "rontok" di lereng bukit, Madun yang entah bagaimana berhasil mendapatkan kembali celana kain seadanya dari jemuran warga, memutuskan untuk singgah di warung kopi terpencil di pinggiran desa. Ia butuh kopi untuk mengembalikan kewarasannya yang sempat tergerus oleh petualangan karung beras.​Di sana, ia bertemu dengan seorang gadis asing berpenampilan tomboi, mengenakan jaket kulit lusuh dan celana jeans robek-robek. Gadis itu bernama Rara.​Madun duduk di sampingnya. Rara langsung menoleh, menatap Madun dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan.​"Heh, lu orang yang katanya bikin heboh kampung sebelah gara-gara pakai karung beras, ya? Babi, bener-bener gak punya malu ya lu! Babi, dandan kayak gembel aja belagu!" cetus Rara ceplas-ceplos.​Madun tertegun, alisnya bertaut. "Jaga mulut kamu. Saya Madun."​"Gak nanya nama lu, Babi! Lu pikir gua peduli? Lu itu cuma sampah hutan, Babi! Denger ya, lu itu cemen, Babi, ngaku jagoan tapi ditangkep warga

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 5 : Rivalitas Dua Bidan Cantik

    Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 4 : Terapi Lanjutan di Rumah Bidan

    ​"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.​Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 3: Malam Terdahsyat

    ​"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep

  • Pusaka Warisan Semut Rangrang    Bab 1 : Pusaka di Balik Celana Kuli

    ​"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status