Mag-log inSuara derap kaki warga desa yang membawa pentungan dan arit terdengar sayup-sayup semakin menjauh. Di balik rimbunnya semak belukar di tepi sungai, Madun dan Rara masih bersembunyi sambil berusaha meredam napas yang memburu. Dua buah durian curian dari kebun Pak RT masih tergenggam erat di tangan Madun layaknya trofi kemenangan perang yang sangat berharga.Tiba-tiba, langit pagi yang tadinya benderang mendadak berubah gelap gulita. Awan hitam tebal menggulung di atas kepala mereka, disertai suara guntur menggelegar yang memecah kesunyian lembah.JEDER!"Wah, anjir, langit ikut-ikutan ngamuk kayak Pak RT!" seru Rara sambil merapatkan tubuhnya ke dada Madun demi menghindari hembusan angin kencang yang mulai bertiup.Belum sempat Madun menjawab, butiran air hujan yang besar-besar langsung tumpah dari langit, menghujani bumi dengan derasnya. Dalam hitungan detik, tubuh mereka berdua sudah basah kuyup. Pakaian yang melekat di badan membuat siluet tubuh mereka tercetak jelas di balik d
Mabuk Durian Jilid Dua: Amukan Rara di Pagi ButaSinar matahari pagi menembus celah-celah papan ruko yang compang-camping akibat didobrak Pak RT semalam. Sisa-sisa aroma tajam durian merah maut masih menguar pekat di setiap sudut ruangan, bercampur dengan bau keringat dan sisa-sisa kegilaan percumbuan brutal yang baru saja usai beberapa jam lalu.Madun terlelap pulas di atas kasur tipis dengan posisi telentang, dadanya naik turun pelan, kelelahan setelah menggempur habis-habisan sang gadis di bawah pengaruh zat panas durian pusaka.Di sampingnya, Rara sudah membuka mata lebih dulu. Gadis tomboi itu menatap wajah Madun lekat-lekat. Alih-alih merasa lemas, sisa-sisa getaran energi dari durian ajaib itu justru membuat matanya berbinar liar. Perutnya kembali bergemuruh, bukan karena lapar, melainkan karena hasrat usilnya mendadak kambuh."Babi... bangun lu, Bang!" bisik Rara tepat di telinga Madun, lalu meniup-niup daun telinga sang jagoan desa.Madun menggeliat malas, mengerjap-nger
Suasana ruko kecil tempat persembunyian Madun dan Rara kembali tenang menjelang dini hari. Setelah melepas rindu yang membara lewat pergulatan panjang di atas kasur, keduanya kini duduk bersila di lantai kayu sambil mengenakan celana longgar seadanya.Di tengah ruangan, tergeletak sebuah benda berduri tajam yang memenuhi seluruh penjuru ruangan dengan aroma menyengat yang khas.Rara menatap buah berukuran besar itu dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme. Tangannya yang lentik menepuk-nepuk kulit berduri durian montong super besar hasil "paten" dari pohon belakang rumah Pak RT yang dicuri Madun subuh-subuh tadi."Babi! Sumpah, lu dapet dari mana durian segede gaban gini, Bang?!" seru Rara heboh, matanya berbinar menatap sang jagoan desa. "Gua dari dulu ngidam durian matang pohon, tapi nggak pernah kesampaian karena duit abis buat beli bensin motor sport!"Madun menyeringai bangku, mengelap pisaunya dengan ujung kaos. "Gue kan jagoan desa. Mau nyolong durian Pak RT tanpa ketah
Malam di desa itu terasa sangat pekat. Di dalam ruko kecilnya yang kini sunyi tanpa kehadiran keramaian, Madun mondar-mandir mondar-mandir tidak jelas. Rokok kretek di jarinya sudah habis tiga batang dalam waktu setengah jam, tapi rasa gelisah di dadanya sama sekali tidak mereda. Pria berbadan bidang itu mendengus kasar, menatap kosong ke arah kursi kosong di depannya."Sialan," gumam Madun pelan. "Kenapa sepi banget rasanya semenjak nggak ada suara teriakan 'babi' itu?"Ya, Madun kangen. Kangen setengah mati pada Rara.Setelah insiden lempar piring nasi goreng ke lampu minyak warung Pak Kumis tiga hari lalu, mereka sempat berpisah sementara untuk menghindari razia besar-besaran dari Pak RT dan pasukannya. Madun memilih bersembunyi di ruko, sementara Rara kabur ke rumah bibinya di seberang kecamatan. Dan sekarang, jarak beberapa kilometer itu terasa seperti neraka yang menyiksa batin sang jagoan desa.Di sisi lain, bertempat di kamar sebuah rumah berdinding bilik bambu yang terle
Matahari sudah sepenggalah tingginya. Madun dan Rara terbangun dengan tubuh pegal luar biasa, sisa-sisa "kegilaan" mereka semalam masih membekas di setiap jengkal otot. Namun, keheningan rimba yang romantis itu mendadak buyar ketika Rara meraba-raba ke sekeliling dengan mata masih terpejam."Bang... Babi, celana gua mana?" tanya Rara santai, mengira celananya hanya terselip di balik batu besar tempat mereka bercumbu semalam.Madun yang sedang asyik memetik daun sirih untuk dijadikan alas duduk, mengerutkan dahi. Ia ikut mencari. "Lho, bukannya lu lepas pas kita lagi 'terbang' tadi? Perasaan gue liat lu lempar ke semak-semak sebelah pohon beringin."Mereka berdua berjalan menuju pohon beringin tua yang rindang. Namun, apa yang mereka temukan di sana bukanlah celana jeans Rara, melainkan seekor monyet ekor panjang yang sedang duduk pongah. Di tangannya, monyet itu memegang celana jeans Rara—lengkap dengan gespernya yang gemerincing—dan celana kain Madun yang semalam ia tanggalkan de
Di puncak bukit yang diselimuti kabut tipis subuh, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada lagi suara teriakan Nabila, tidak ada lagi gedoran sapu lidi di pintu ruko, dan tidak ada lagi pandangan menghakimi dari warga desa. Hanya ada Madun dan Rara, dua jiwa yang terikat dalam pelarian paling liar yang pernah mereka jalani.Mereka duduk di atas hamparan rumput basah yang dingin, namun suhu di antara keduanya justru membakar. Rara menatap Madun dengan tatapan yang jauh dari kesan ceplas-ceplos biasanya. Sisa-sisa adrenalin dari pelarian dramatis tadi malam masih terasa, mengubah setiap sentuhan menjadi aliran listrik yang konstan."Ternyata begini ya rasanya jadi buronan," bisik Rara pelan, jarinya menelusuri garis otot di dada Madun yang bidang dan kokoh. "Deg-degan, tapi... bikin ketagihan, Babi."Madun menangkap tangan Rara, menggenggamnya erat, lalu menatap lurus ke dalam mata gadis itu. "Pelarian ini bukan tentang lari dari sesuatu, Rara. Ini tentang menemukan tempat di mana
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep







