Di lorong panjang yang diterangi cahaya redup, Elyana berjalan beriringan dengan Leon. Langkah mereka terdengar jelas, menggema di antara dinding batu yang dingin dan sepi. Setiap langkah terasa berat bagi Elyana, seolah lantai di bawah kakinya menahannya untuk terus maju.Sesekali, tanpa bisa menahan diri, Elyana melirik ke arah lengan Leon yang merangkul pinggangnya. Sentuhan itu terasa begitu mengekang, seperti rantai tak kasatmata yang mengikat kebebasannya. Rasa tidak nyaman menjalar hingga ke ujung jemarinya, membuat napasnya terasa sesak.Namun setiap kali Elyana sedikit saja menunjukkan ketidaknyamanannya, Leon akan menoleh. Tatapan dinginnya menusuk, tajam dan penuh peringatan, seakan berkata bahwa perlawanan sekecil apa pun tidak akan ditoleransi. Elyana pun terdiam, menelan semua protes yang ingin ia lontarkan.Di belakang mereka, Magnus berjalan dengan langkah yang sedikit tertahan. Pupil hijau toscanya tak pernah lepas dari sosok Elyana. Tatapannya dipenuhi rasa iba yang
Leer más