Aku memutuskan untuk mengusap kepala hingga bahu Tuan Sinyo. Pria itu masih terdiam. Wajahnya kini malah mendusel perutku, mencium perutku dalam diam.“Tuan...” bisikku.Ia mendongak, mata kami bertemu. Pria ini, mirip sekali dengan Capybara-ku. Namun aku takut berasumsi jauh yang akhirnya akan membuatku kecewa. Ia meraih leherku, bibir kami bertemu. Ia menciumku, aku memejamkan mata dan lidah kami terjalin. Benar-benar tidak peduli dengan pintu yang terbuka setengah.Apa artinya ini?Aku merasa, ada yang ingin Tuan Sinyo katakan tapi ia tak sanggup. Aku hanya menerima ciuman itu, hanyut dalam tautan itu. Ia begitu lembut, dan ini berbahaya bagiku. Aku bisa benar-benar mencintainya, dan itu... tidak boleh. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Tuan Sinyo, cintaku hanya untuk Mas Bara seorang. Tuan Sinyo dan Mas Bara adalah dua kepribadian yang berbeda.Tuan Sinyo menyentak tubuhnya, mundur dan memutus ciuman itu secara mendadak. Napasnya memburu.Pria itu berdiri kaku, membelakangiku seket
Leer más