LOGINDua hari telah berlalu sejak acara fitting gaun pengantin di Gedung Utama, namun suasana mansion justru terasa semakin dingin dan menekan.Sepanjang hari, perhatianku tak bisa lepas dari sosok Nona Salma. Wanita yang biasanya memancarkan keanggunan ceria itu mendadak berubah menjadi amat pendiam. Ia lebih banyak mengurung diri atau duduk melamun di tepi kolam taman, menatap kosong ke arah air dengan sorot mata yang redup dan hampa. Tidak ada lagi celoteh manja atau godaan halus yang biasanya ia lontarkan. Perubahan drastis itu terjadi sejak percakapan kami di taman, sejak pesan misterius di ponselnya membuat rona wajahnya pucat pasi.Kesenyapan di Paviliun Lavender terasa makin menyiksa karena Tuan Sinyo belum juga kembali. Pria bertopeng itu menghilang tanpa kabar sejak kemarin sore. Ruang kerjanya terkunci rapat, dan keberadaannya yang tak menentu membuat dadaku terus diliputi kegelisahan yang tak beralasan.Di sisi lain, Yumna semakin tenggelam dalam kenangan bersama Dwi Ankara. Ia
Nona Salma menatap lurus ke dalam mataku. Tidak ada sorot amarah, keangkuhan, atau niat jahat di sana hanya ada kejujuran yang begitu bening sekaligus rapuh."Ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dan Tuan Sinyo?" tanya Nona Salma pelan, namun setiap katanya menembus tepat ke dadaku. "Apakah... ada perasaan lebih di antara kalian? Lebih dari sekadar Tuan dan pelayannya?"Aku membisu kaku. Lidahku terasa kelu. Bagaimana Nona Salma bisa bertanya seperti ini? Apakah rahasia kami sudah terbongkar? Apakah ia melihatku dan Tuan di kamar semalam? Tidak... tidak..."Nona Salma... saya hanya pelayan di sini –""Silvia, tolong jangan berbohong padaku," potong Nona Salma lembut. Ia mengelus punggung tanganku dengan lembut. "Aku melihat bagaimana caranya menatapmu. Refleksnya saat melindungimu, cara matanya selalu mencarimu di ruangan... itu bukan tatapan seorang majikan pada pelayannya. Pria tidak akan bertindak sejauh itu jika tidak ada rasa yang mendalam."Nona Salma melanjutkan.“Aku meliha
“Kamu lihat kan, Sayang, ini pilihan Silvia. Persis seperti pilihanmu...” ujar Nona Salma memperlihatkan kain itu pada calon suaminya.“Dua-duanya juga boleh Salma, semuanya cocok untukmu...” sela Nyonya Rika. “Nanti Tante buatkan dua, sekarang kamu diukur dulu ya.”“Sungguh Tante, saya dapat dua gaun?” tanya sumringah Salma.Aku hanya berdiri di sana, melihat mereka yang sibuk dengan kain-kain dan pengukuran baju.Selama kurang lebih satu jam melihat Nona Salma melakukan pengukuran dan mencoba beberapa gaun rasanya dadaku makin perih. Bagaimana Tuan Sinyo menatapnya dan bersanding dengannya sama-sama membuat perih hati juga mata. Tapi aku harus menahan rasa ini sampai semuanya usai.“Terima kasih, Tante atas semua ini... saya sangat senang,” ujar Salma sambil tersenyum dan menyentuh tangan calon Ibu mertuanya itu.Salma menoleh pada calon suaminya. “Iya kan, Sayang... kamu juga suka kan...Tuan Sinyo hanya menatapnya sekejap, lalu menoleh pada ibu tirinya kemudian tanpa menjawab ia s
Perkataanku semalam tampaknya menembus pikiran Yumna. Pagi ini, walau matanya masih sembab, Yumna mau menghabiskan separuh porsi bubur hangatnya. Melihatnya berusaha menelan makanan membuat dadaku sedikit lega, walau ancaman yang dibisikkan Kayla kemarin masih terus membebani kepalaku.Nyonya Rika dan Tuan Ananta akan melakukan sesuatu yang buruk pada kandungan Yumna.Kalimat itu terus terngiang. Aku melangkah keluar dari kamar Yumna menuju lorong Paviliun Lavender untuk mengembalikan nampan bekas makan ke dapur. Namun, begitu aku menggeser pintu kamar, langkahku terhenti.Di lorong paviliun, berdiri Nona Salma. Wanita itu tampak anggun dengan gaun sederhananya. Wajahnya menyiratkan keraguan saat matanya beradu pandang denganku."Nona Salma?" tegurku kaget seraya menundukkan kepala. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"Nona Salma tersenyum tipis, melirik ke arah pintu kamar Yumna sebelum kembali menatapku. “Tadi aku ke kamarmu tapi kamu nggak ada. Aku ke sini mau menjenguk Yumna... malah
Aku memutuskan untuk mengusap kepala hingga bahu Tuan Sinyo. Pria itu masih terdiam. Wajahnya kini malah mendusel perutku, mencium perutku dalam diam.“Tuan...” bisikku.Ia mendongak, mata kami bertemu. Pria ini, mirip sekali dengan Capybara-ku. Namun aku takut berasumsi jauh yang akhirnya akan membuatku kecewa. Ia meraih leherku, bibir kami bertemu. Ia menciumku, aku memejamkan mata dan lidah kami terjalin. Benar-benar tidak peduli dengan pintu yang terbuka setengah.Apa artinya ini?Aku merasa, ada yang ingin Tuan Sinyo katakan tapi ia tak sanggup. Aku hanya menerima ciuman itu, hanyut dalam tautan itu. Ia begitu lembut, dan ini berbahaya bagiku. Aku bisa benar-benar mencintainya, dan itu... tidak boleh. Aku tidak boleh jatuh cinta pada Tuan Sinyo, cintaku hanya untuk Mas Bara seorang. Tuan Sinyo dan Mas Bara adalah dua kepribadian yang berbeda.Tuan Sinyo menyentak tubuhnya, mundur dan memutus ciuman itu secara mendadak. Napasnya memburu.Pria itu berdiri kaku, membelakangiku seket
Setibanya kami di Paviliun Lavender, Ibu Diana dan Kayla langsung berdiri menyambut kami. Wanita paruh baya itu panik bukan main melihatku dan Yumna berdarah-darah di bahu juga masih terisak menahan sakit."Ya Tuhan! Apa yang dilakukan Rika pada kalian?!" pekik Ibu Diana, tangannya gemetar hebat saat mendekat.Sinyo yang masih menggendong Yumna langsung berusaha menenangkan ibunya. "Tenang, Ma... Aku akan menangani ini semua."Tapi Ibu Diana tetap panik luar biasa."Panggil dokter segera, Kayla! Luka itu... ya Tuhan, Yumna... Silvia..."Kayla mengangguk cepat dengan mata berkaca-kaca, lalu ia meraih ponselnya dan menelepon dokter keluarga.Hans membawaku ke kamarku di atas, dengan perlahan meletakkan tubuhku di atas ranjang dengan hati-hati. Punggungku yang terkena sabetan cambuk kuda terasa terbakar dan perih luar biasa. Setiap kali kain bajuku menyentuh kulit yang robek, napasku tersengal menahan sakit.“Nyonya, apa yang bisa bantu?” tanya Hans bingung harus bagaimana lagi.Aku beru
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk







