Aku menggidikkan bahu pelan, berpura-pura polos. "Entahlah, Dian... Mungkin kue boluku yang gagal. Lagian yang lain makan enggak apa-apa, mungkin perutnya Hans aja yang kaget sama mentega atau pisangnya atau... ada alergi apa."“Saya nggak punya alergi, dok...” lirih Hans.Diandra mengalihkan pandangan pada Hans.“Ya sudah, sekarang Mas istirahat aja dulu,”Aku nggak mau lama-lama di tengah kecurigaan Hans dan Dian, lebih baik menghilang dulu sementara.“Kalau gitu, aku tunggu di luar ya Hans.”Aku mengangguk sejenak pada Diandra lalu balik badan dan segera keluar, sudah nggak tahan ingin ketawa.Sepuluh menit kemudian, Diandra menyusulku di luar.“Sil, kita ngobrol bentar di kantin yuk...”Aku pun mengikutinya ke kantin.Setelah menikmati sarapan yang tertunda, Diandra membuka suara lagi."Sil... kamu tahu enggak rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi semenit kemudian langsung patah hati seluka-lukanya?""Hah? Gimana maksudnya?"Diandra menghela napas."Aku tuh beneran terp
اقرأ المزيد