Tangisanku tak bersuara lagi, hanya pundakku yang naik-turun menahan sesak. Di dalam perutku yang masih terasa datar ini, ada sebuah nyawa. Nyawa yang tak bersalah, namun sudah dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya sendiri bahkan sebelum ia sempat melihat dunia.Aku mengepalkan tangan, mengusap kasar air mata yang membasahi pipi. Dulu aku sudah berdosa pada Mas Bara karena menolak hadirnya keturunan, dan kali ini aku tidak akan membiarkan dosa membunuh buah hatiku sendiri terulang kembali. Aku belum bertemu lagi dengan kedua orang tuaku, tak tahu di mana keberadaan mereka... aku tak punya tempat berlindung di luar sana. Aku harus bertahan di sini, demi menjaga nyawa kecil ini.Dengan sisa tenaga yang ada, aku bangkit dan berlari kecil keluar dari kamar, menyusul langkah tegap Tuan Sinyo yang baru beberapa langkah."Tuan! Tuan Sinyo, tunggu!" panggilku dengan suara serak menahan tangis.Pria bertopeng hitam itu menghentikan langkahnya. Ia berbalik perlahan, menatapku dingin tanpa bersuara
اقرأ المزيد