Beberapa hari kemudian, kondisi fisikku sudah jauh lebih bugar. Hanya masih sedikit mual setiap pagi, untung saja siangnya baik-baik saja. Aku lebih sering terasa lapar, dan tidak bisa mencium bau yang menyengat, seperti parfum, kuah-kuahan dan bau ikan.Hubunganku dengan Tuan Sinyo masih sama saja, ada jarak terbentang di antara kami. Namun rasa hangat di hatiku tentangnya tak berubah. Aku mengelus perutku, dan memahami ini semua karena bayi ini, ia merindukan ayahnya.“Silvia!” panggil Nona Salma di depan kamarku.“I-iya Nona, sebentar!” sahutku.Sepuluh detik kemudian, aku sudah membuka pintu kamar dan tampil rapi.“Ikut aku yuk, pelayan sudah menyiapkan sarapan pagi di taman. Tolong temani aku, dan kamu butuh sinar matahari,” pintanya sambil mengulurkan tangannya.Aku meraih tangannya dengan ragu, dan mengikutinya ke arah taman. Sepanjang jalan, ia mengingatkanku untuk istirahat dan makan. Ia juga bilang aku terlihat kurus dan kurang semangat. Benar saja ucapannya itu, semangatku
اقرأ المزيد