Sinar matahari pagi menyusup halus di antara celah gorden penthouse, membias hangat di atas permukaan ranjang. Kelopak mataku terbuka perlahan. Rasa berat di kepala dan sisa demam semalam sudah menghilang, digantikan oleh kehangatan yang mengungkung tubuhku.Sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangku, merengkuhku rapat tanpa jarak.Aku menoleh pelan, dan jantungku serasa berdesir hangat seketika. Di sampingku, Mas Bara tertidur tanpa baju atasan. Hembusan napasnya teratur dan tenang, berhembus halus menyapu area telingaku. Wajahnya tampak begitu polos tanpa sisa ketegangan, tanpa topeng hitam yang mengintimidasi, tanpa tatapan dingin Tuan Sinyo yang penuh intrik, dan tanpa raut sarat beban seperti Bara saat di desa dulu.Ini seperti sosok Bara versi ketiga dalam hidupku. Pria yang jauh lebih lembut, dipenuhi kehangatan yang matang, dan bisa tertidur pulas di sisiku tanpa beban yang menghimpit hatinya.Biasanya, setiap kali aku terbangun di pagi hari, aku selalu kehilangan sua
Leer más