Masuk“Aku kira kamu sudah mulai sibuk di kantor sejak tiga hari lalu,” gumam Salma lirih, matanya menatap piring di hadapannya sebelum akhirnya beralih menatap Sinyo. “Tiga hari dua malam kemarin kamu bilang ada urusan bisnis di luar kota, kan?”Bara tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan tenang khas Tuan Sinyo, ia meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring porselen. Bunyi denting logam yang beradu dengan keramik membuat Yumna dan Ibu Diana turut menghentikan suapan mereka kemudian menatap suami istri itu.“Ya, memang aku ada urusan ke luar kota... itu sudah selesai kemarin,” sahut Sinyo dingin dari balik topeng hitamnya. “Dan hari ini aku baru benar-benar masuk ke kantor pusat untuk membereskan kekacauan yang dibuat Papa. Ada yang aneh dari itu?”Salma menelan saliva, sedikit tersentak oleh nada bicara suaminya yang tak menyisakan ruang untuk perdebatan. Ia menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum tipis. “Tidak... aku hanya khawatir kamu kelelahan.”“Aku baik-baik saja,
“Aroma pakaian Sinyo kadang tercampur dengan aroma lain.”Kalimat itu bukan sekadar keluhan seorang istri yang merasa diabaikan, melainkan sinyal bahaya bahwa intuisi seorang wanita tidak bisa diremehkan. Salma mungkin tidak memiliki bukti fisik, tetapi indranya telah menangkap kejanggalan. Setiap kali Mas Bara memelukku, menciumku, atau mendekapku erat seperti di penthouse maupun di kamar ini, aroma tubuhku pasti tertinggal dan melekat pada kemeja atau jasnya.Aku terduduk pelan di tepi ranjang, meremas jemariku yang mendadak dingin. Rasa bersalah dan panik bercampur menjadi satu."Aku harus lebih berhati-hati," bisikku lirih pada diri sendiri seraya mengusap perutku.Aku harus menahan diri. Mulai besok, aku tidak boleh membiarkan Mas Bara menyentuhku sembarangan saat berada di area Paviliun Lavender. Kami tidak boleh ceroboh hanya karena merindukan satu sama lain. Permainan sandiwara ini terlalu berisiko jika harus hancur hanya karena kecerobohan sekecil aroma parfum.Pagi harinya,
Tautan bibir kami terlepas seketika. Suasana kamar yang tadinya panas mendadak mendingin oleh ketegangan yang mendadak menyergap. Napas Bara berhembus berat di atas permukaan kulit leherku, dadanya kembang kempis menahan gejolak hasrat yang dipaksa berhenti secara mendadak."Silvia?" suara Salma kembali terdengar dari balik pintu, diikuti ketukan halus yang berulang.“Gimana ini?” tanyaku panik.“Diam saja, ia berpikir kamu sudah tidur,” bisiknya.“Silvia...”Bara sama sekali tidak panik, ia malah menciumi leherku."Boleh aku minta tolong sebentar? Tolong buatkan teh herbal untukku, perutku agak mual."Mataku membelalak lebar. Tatapanku bertemu lurus dengan manik cokelat Mas Bara dalam remang kamar.Dengan gerakan secepat kilat, aku bergeser turun dari pangkuannya. Jemariku yang gemetar bergegas membenahi kemeja Bara yang kancingnya sempat kubuka, merapikan kerahnya dengan panik.Bara meraih tanganku, menahannya sejenak lalu mengusap punggung tanganku lembut mencoba menyalurkan ketena
Suasana mansion besar itu mulai hening setelah pukul sepuluh. Seluruh lampu di lorong utama redup, menyisakan lampu dinding bercahaya kuning temaram. Aku duduk di tepi ranjang kamarku, memandangi perutku sendiri di balik gaun malam yang longgar. Jemariku mengusapnya perlahan seraya tersenyum tipis.Hari ini cukup melelahkan, Nyonya Salma benar-benar memintaku untuk menemaninya seharian. Sebenarnya aku cukup bersyukur karena bisa menghindari pertanyaan menuntut dari Yumna. Ia tidak berani menyela permintaan kakak iparnya sendiri. Tuan Sinyo atau Mas Bara, aku tau dia menahan diri untuk tidak menatapku, tidak menyela istri bisnisnya juga menjauh sementara dari kami.Klek.Suara engsel pintu yang terkuak pelan membuat jantungku melonjak seketika. Aku menoleh cepat ke arah pintu. Sosok tegap melangkah masuk dengan gerakan sangat halus, hampir tanpa suara, lalu merapatkan pintu kembali hingga terkunci rapat.Pria itu sudah melepaskan jas dan topeng hitamnya. Dalam keremangan kamar, paras te
Mobil hitam mewah itu berhenti perlahan tepat di pelataran Paviliun Lavender. Begitu pintu mobil dibuka, sosok pria di sisiku langsung berubah total. Aura hangat dan lembut Mas Bara yang kunikmati dua hari ini mendadak menguap tanpa sisa.Gesturnya kembali tegap, dingin, dan amat mengintimidasi kembali menjadi Tuan Sinyo yang disegani. Ia telah mengenakan topeng hitamnya, sementara aku melangkah mundur dua langkah di belakangnya, siap memainkan peranku kembali sebagai seorang pelayan.Di depan pintu utama, Nona Salma dan Ibu Diana sudah berdiri menanti kedatangan kami.Tanpa ragu sedikit pun, Salma langsung menghambur maju dan memeluk tubuh Tuan Sinyo dengan erat.Tubuhku seketika menegang menyaksikan pemandangan itu secara langsung. Meskipun aku sudah berjanji tidak akan cemburu, dadaku tetap saja berdesir panas. Dari sudut mataku, aku melihat rahang Tuan Sinyo mengeras perlahan di balik topeng hitamnya. Ia tampak menahan diri setengah mati agar tidak menghempaskan atau menepis tanga
Mas Bara menatapku seakan kembali menemukan sisi keras kepalaku yang persis sama seperti saat kami masih di Mertangi dulu.“Sayang... jika kamu bersikeras ikut tinggal di Paviliun Lavender, kita harus tetap berakting sebagai Tuan dan pelayan.”“Aku tidak peduli.”“Aku tidak bisa menceraikan Salma.”“Aku tidak peduli.”“Nanti kamu bisa cemburu, aku nggak mau itu...”Aku mengangguk pelan. “Bisa jadi, tapi anggap saja aku pelayanmu di sana.”“Aku juga belum bisa mengenalkanmu pada Mama...”“Aku tidak peduli, Mas...”Bara menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.“Kamu serius mau tinggal di sana? Kalau di sini –”Aku langsung menggenggam tangannya erat.“Aku sangat serius. Setidaknya di sana aku bisa tahu di mana dirimu berada, Mas. Aku masih bisa melihatmu, bahkan aku bisa membantumu juga...”Bara mengangguk pasrah, tak lagi sanggup membendung keinginanku.“Percayalah padaku, Mas... aku akan baik-baik saja,” ujarku sambil meraih dagunya, menatap matanya lembut.Bara mengangguk lagi,
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d







