Pemandangan di hadapanku terasa begitu membekukan. Nyonya Salma meremas bagian depan kemeja kusut yang dipakai Mas Bara, menyembunyikan wajah basahnya di sana. Tangan pria itu membelai punggung Nyonya Salma pelan, memberi kenyamanan yang tampak begitu alami bagi siapa pun yang melihatnya dari luar.Hanya beberapa jam lalu, lengan yang sama memelukku erat di balik selimut di kamarku. Namun kini, di bawah terik matahari pagi, lengan itu melindungi istri keduanya di hadapan seluruh penghuni paviliun."Silvia, ambilkan air hangat dan handuk kecil," suara Sinyo terdengar tenang, datar, dan begitu berjarak. Ia sama sekali tidak menatap mataku saat memerintah. “Tangan Salma terbentur besi.”Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan getaran di bibirku. "Baik, Tuan."Yumna dan Ibu Diana keluar dari tempat persembunyian mereka, melangkah mendekat untuk membantu Salma yang masih terisak payah. Aku berbalik cepat, setengah berlari menuju pantry untuk menyiapkan apa yang diminta. Di dalam dapur yan
Leer más