LOGINSuasana di dalam gudang terasa begitu sempit dan menghimpit. Tatapan mata Yumna yang menuntut membuat dadaku makin bergemuruh hebat. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat selama ini mulai terkelupas satu per satu di hadapan perempuan ini.Aku menghela napas panjang, menunduk sejenak sebelum kembali menatap Yumna dengan pasrah. Aku pun mengangguk, pasrah."Iya, Yumna... aku memang lulusan kedokteran umum," bisikku pelan, membiarkan pengakuan itu terucap di antara kegelapan gudang.Mata Yumna membelalak pelan. "Aku... aku tahu aku tidak salah dengar waktu di rumah sakit! Pantas saja, Kakak nggak seperti pelayan lainnya. Dan Kak Sinyo –”"Tapi Yumna, dengarkan Kakak dulu," potongku cepat seraya meraih jemarinya yang dingin. "Aku memang menyelesaikan kuliah kedokteran, tapi aku tidak memegang ijazahku. Aku belum punya lisensi resmi untuk praktik."Yumna mengernyitkan dahi, tampak menganalisis. "Maksud Kakak?""Kalau aku menggunakan ilmunya atau membuka praktik tanpa ijazah dan izin resmi, itu
Satu bulan berlalu sejak percakapanku dengan Salma dan panggilan telepon yang menegangkan itu. Kehidupan di Paviliun Lavender berjalan dalam kepalsuan yang makin memberatkan, baik bagiku maupun Salma.Tuan Sinyo mendadak sangat sibuk di kantornya, pergi sebelum fajar menyingsing dan baru kembali ketika seluruh isi rumah sudah terlelap. Berita televisi menyampaikan informasi yang membuat suasana mansion semakin tercekat. Tuan Ananta dituduh melakukan pencucian uang. Kedekatannya dengan pejabat pemerintahan seperti Tuan Rahardi menjadi renggang. Nama baik keluarga Ananta menjadi pertaruhan besar. Beberapa kali wajah Tuan Ananta, Yudhistira, dan Tuan Sinyo muncul di wawancara tanpa izin. Mereka bertiga kompak untuk bungkam.Di tengah berita yang menghimpit itu, perubahan fisik pada tubuhku makin sulit kusembunyikan. Usia kandunganku yang mulai memasuki bulan keempat membuat bagian perutku agak membuncit. Beruntung, seragam pelayan yang kukenakan masih mampu menyamarkannya dari penglihata
Aku tidak tahu lagi harus bicara apa. Lidahku mendadak kelu, seolah-olah seluruh pasokan udara di sekitarku menguap. Jika dia sampai tahu hubungan yang sebenarnya antara aku dan suaminya... apa yang akan dilakukannya padaku? Apa ia akan membenciku, mengusirku dari sini, atau membongkar semuanya di hadapan Tuan Ananta?"Nyonya... saya hanyalah pelayan di rumah ini," ucapku serak, berusaha sekuat tenaga mempertahankan nada suaraku agar tidak bergetar. "Saya tidak pernah berpikir atau berniat menyimpang dari batas tugas saya."‘Ya Tuhan... maafkan aku Nyonya Salma...’ batinku perih.“Bukan kamu tapi Sinyo, dia bisa menikahiku tapi dia bisa mencintaimu juga...”Aku terdiam kembali, pria itu memang bisa melakukan itu.Salma menatapku lekat-lekat, matanya berkaca-kaca menahan rasa tertekan yang teramat sangat. "Aku harap begitu, Silvia. Karena jika sampai dugaan burukku ini benar... aku benar-benar tidak tahu harus memercayai siapa lagi di mansion ini."Aku meraih tangannya, lalu meyakinkann
“Aku kira kamu sudah mulai sibuk di kantor sejak tiga hari lalu,” gumam Salma lirih, matanya menatap piring di hadapannya sebelum akhirnya beralih menatap Sinyo. “Tiga hari dua malam kemarin kamu bilang ada urusan bisnis di luar kota, kan?”Bara tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dengan gerakan tenang khas Tuan Sinyo, ia meletakkan pisau dan garpunya ke atas piring porselen. Bunyi denting logam yang beradu dengan keramik membuat Yumna dan Ibu Diana turut menghentikan suapan mereka kemudian menatap suami istri itu.“Ya, memang aku ada urusan ke luar kota... itu sudah selesai kemarin,” sahut Sinyo dingin dari balik topeng hitamnya. “Dan hari ini aku baru benar-benar masuk ke kantor pusat untuk membereskan kekacauan yang dibuat Papa. Ada yang aneh dari itu?”Salma menelan saliva, sedikit tersentak oleh nada bicara suaminya yang tak menyisakan ruang untuk perdebatan. Ia menggeleng pelan, lalu mencoba tersenyum tipis. “Tidak... aku hanya khawatir kamu kelelahan.”“Aku baik-baik saja,
“Aroma pakaian Sinyo kadang tercampur dengan aroma lain.”Kalimat itu bukan sekadar keluhan seorang istri yang merasa diabaikan, melainkan sinyal bahaya bahwa intuisi seorang wanita tidak bisa diremehkan. Salma mungkin tidak memiliki bukti fisik, tetapi indranya telah menangkap kejanggalan. Setiap kali Mas Bara memelukku, menciumku, atau mendekapku erat seperti di penthouse maupun di kamar ini, aroma tubuhku pasti tertinggal dan melekat pada kemeja atau jasnya.Aku terduduk pelan di tepi ranjang, meremas jemariku yang mendadak dingin. Rasa bersalah dan panik bercampur menjadi satu."Aku harus lebih berhati-hati," bisikku lirih pada diri sendiri seraya mengusap perutku.Aku harus menahan diri. Mulai besok, aku tidak boleh membiarkan Mas Bara menyentuhku sembarangan saat berada di area Paviliun Lavender. Kami tidak boleh ceroboh hanya karena merindukan satu sama lain. Permainan sandiwara ini terlalu berisiko jika harus hancur hanya karena kecerobohan sekecil aroma parfum.Pagi harinya,
Tautan bibir kami terlepas seketika. Suasana kamar yang tadinya panas mendadak mendingin oleh ketegangan yang mendadak menyergap. Napas Bara berhembus berat di atas permukaan kulit leherku, dadanya kembang kempis menahan gejolak hasrat yang dipaksa berhenti secara mendadak."Silvia?" suara Salma kembali terdengar dari balik pintu, diikuti ketukan halus yang berulang.“Gimana ini?” tanyaku panik.“Diam saja, ia berpikir kamu sudah tidur,” bisiknya.“Silvia...”Bara sama sekali tidak panik, ia malah menciumi leherku."Boleh aku minta tolong sebentar? Tolong buatkan teh herbal untukku, perutku agak mual."Mataku membelalak lebar. Tatapanku bertemu lurus dengan manik cokelat Mas Bara dalam remang kamar.Dengan gerakan secepat kilat, aku bergeser turun dari pangkuannya. Jemariku yang gemetar bergegas membenahi kemeja Bara yang kancingnya sempat kubuka, merapikan kerahnya dengan panik.Bara meraih tanganku, menahannya sejenak lalu mengusap punggung tanganku lembut mencoba menyalurkan ketena
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.
‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus
Aku mendecak, belum apa-apa sudah ada rahasia lagi. “Kamu mau kemana, Mas?”“Saya mau nyiapin pernikahan kita. Malam ini kalau bisa... kita sudah sah menjadi suami-istri.” Serunya sambil berlalu.“Hah?!” aku berhenti mengikutinya dan berdiri mematung dengan nafas tersengal menatap punggung pria it
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk







