Aku terperangah mendengar cerita Maisaroh. Rasanya tak mungkin orang kota tergiur tanah di desa terpencil begini.“Masa sih Mai?”“Pernah kejadian Mbak, kala itu Eyang belum sakit dan masih kuat. Orang kaya dari kota mau beli tanah di sini dengan harga murah, tapi penduduk desa tidak mau. Jadi Eyang yang maju menjadi perwakilan desa,” cerita Mai lagi.“Terus apa hubungannya sama Mas Bara, Mai?” tanyaku, semakin penasaran sambil beralih duduk di kursi kayu dapur.Maisaroh mengecilkan api kompor, wajahnya tampak serius saat menoleh padaku. “Waktu itu, orang-orang kota itu bawa preman banyak sekali, Mbak. Mereka mau maksa warga tanda tangan surat jual beli. Eyang sudah hampir dipukul, tapi tiba-tiba Mas Bara datang sendirian.”“Sendirian?” aku terkesiap.“Iya, Mbak. Saya ingat sekali, Mas Bara cuma bawa celurit tebang yang biasa dia pakai ke kebun. Tapi tatapannya... ampun, Mbak, dingin sekali. Dia bilang, “Satu langkah kalian maju, tanah ini jadi kuburan kalian.” Orang-orang kota itu ke
اقرأ المزيد