LOGINPemandangan di hadapanku terasa begitu membekukan. Nyonya Salma meremas bagian depan kemeja kusut yang dipakai Mas Bara, menyembunyikan wajah basahnya di sana. Tangan pria itu membelai punggung Nyonya Salma pelan, memberi kenyamanan yang tampak begitu alami bagi siapa pun yang melihatnya dari luar.Hanya beberapa jam lalu, lengan yang sama memelukku erat di balik selimut di kamarku. Namun kini, di bawah terik matahari pagi, lengan itu melindungi istri keduanya di hadapan seluruh penghuni paviliun."Silvia, ambilkan air hangat dan handuk kecil," suara Sinyo terdengar tenang, datar, dan begitu berjarak. Ia sama sekali tidak menatap mataku saat memerintah. “Tangan Salma terbentur besi.”Aku menunduk dalam-dalam, menyembunyikan getaran di bibirku. "Baik, Tuan."Yumna dan Ibu Diana keluar dari tempat persembunyian mereka, melangkah mendekat untuk membantu Salma yang masih terisak payah. Aku berbalik cepat, setengah berlari menuju pantry untuk menyiapkan apa yang diminta. Di dalam dapur yan
Jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. Hari ini aku dan Mas Bara bangun kesiangan.“Astaga!”Aku mendapati pria itu masih tertidur di sisiku. Lengannya yang kokoh masih memeluk tubuhku. Dan samar-samar terdengar suara ribut di taman.Aku menggoyang tubuh Mas Bara yang masih tertidur pulas. Antara tidak tega membangunkannya tapi juga ini bahaya jika diketahui penghuni paviliun terutama Nyonya Salma.“Mas Bara, bangun...”Bara mengerjap, lalu membuka matanya dengan enggan.“Selamat pagi, Sayang...”“Astaga Mas, kita kesiangan. Cepat mandi dan pakai pakaianmu,” ujarku semakin panik melihat ketenangannya. “Sebaiknya aku yang keluar lebih dulu... aduh... nggak bisa mandi dulu kalau kesiangan begini.”Mas Bara malah tersenyum melihat kepanikanku, mondar-mandir bingung harus melakukan apa dulu.“Mas, itu di luar ada ribut-ribut. Mas harus melihatnya.”Bara sudah bersandar di ranjang, bagian bawah tubuhnya masih tertutupi selimut.“Huft! Aku bersih-bersih dulu,” ujarku sambil m
Aku menyandarkan tubuhku di dinding pantry yang dingin, menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Tangisku pecah tanpa suara. Setiap inci tubuhku bergetar hebat menahan gejolak emosi yang mendadak menghantam.Malam pertama? Hamil?Kalimat Nyonya Salma terus berputar di dalam kepalaku. Pengetahuan medisku berusaha merasionalkan segalanya tentang kemungkinan kehamilan palsu akibat stres atau cemas berlebih yang memicu mual dan peningkatan denyut nadi. Namun, sisi diriku sebagai seorang wanita dan istri rahasia Tuan Sinyo menolak teori medis itu. Rasa cemburu dengan cepat melumpuhkan logikaku.Apakah Mas Bara membohongiku selama ini? Apakah di balik sikap dinginnya, ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami pada Nyonya Salma?Aku segera menggeleng, berusaha menepis prasangka burukku tentang Mas Bara.‘Tidak boleh, sedikit pun aku tidak boleh ragu pada Mas Bara,’ tegasku pada diri sendiri walaupun rasanya perih.Aku langsung menghapus sisa air mata, bernapas dengan ritme
"Silvia... kamu tau Sinyo ada di mana sekarang? Teleponnya tidak aktif sejak tadi jam lalu."Aku menggeleng pelan, menjaga pandangan tetap tertunduk netral. "Maaf, Nyonya. Tuan Sinyo tidak meninggalkan pesan apa pun sejak berangkat tadi pagi."Salma mendesah berat, meremas ponsel di tangannya. "Berita di luar semakin liar... Papaku mengancam akan datang ke sini kalau Sinyo tidak memberi kepastian. Aku takut, Silvia..."“Sabar Nyonya, tunggu Tuan Sinyo saja. Saya yakin Tuan melakukan yang terbaik untuk keluarga ini,” ujarku berusaha menenangkannya. “Mari saya buatkan teh chamomile dan saya akan temani Nyonya.”Untung saja Nyonya Salma menurut. Aku pun membuatkan teh chamomile dua. Sementara Yumna undur diri ingin menemani Ibu Diana.Setelah teh itu selesai dibuat, aku membawanya menuju taman supaya Nyonya terkena sinar matahari pagi yang hangat. Kami duduk di tempat biasanya.“Silvia... aku nggak mau bercerai dari Sinyo,” air matanya mulai meleleh.Aku hanya terdiam, sambil mengusap pu
Suasana di dalam gudang terasa begitu sempit dan menghimpit. Tatapan mata Yumna yang menuntut membuat dadaku makin bergemuruh hebat. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat selama ini mulai terkelupas satu per satu di hadapan perempuan ini.Aku menghela napas panjang, menunduk sejenak sebelum kembali menatap Yumna dengan pasrah. Aku pun mengangguk, pasrah."Iya, Yumna... aku memang lulusan kedokteran umum," bisikku pelan, membiarkan pengakuan itu terucap di antara kegelapan gudang.Mata Yumna membelalak pelan. "Aku... aku tahu aku tidak salah dengar waktu di rumah sakit! Pantas saja, Kakak nggak seperti pelayan lainnya. Dan Kak Sinyo –”"Tapi Yumna, dengarkan Kakak dulu," potongku cepat seraya meraih jemarinya yang dingin. "Aku memang menyelesaikan kuliah kedokteran, tapi aku tidak memegang ijazahku. Aku belum punya lisensi resmi untuk praktik."Yumna mengernyitkan dahi, tampak menganalisis. "Maksud Kakak?""Kalau aku menggunakan ilmunya atau membuka praktik tanpa ijazah dan izin resmi, itu
Satu bulan berlalu sejak percakapanku dengan Salma dan panggilan telepon yang menegangkan itu. Kehidupan di Paviliun Lavender berjalan dalam kepalsuan yang makin memberatkan, baik bagiku maupun Salma.Tuan Sinyo mendadak sangat sibuk di kantornya, pergi sebelum fajar menyingsing dan baru kembali ketika seluruh isi rumah sudah terlelap. Berita televisi menyampaikan informasi yang membuat suasana mansion semakin tercekat. Tuan Ananta dituduh melakukan pencucian uang. Kedekatannya dengan pejabat pemerintahan seperti Tuan Rahardi menjadi renggang. Nama baik keluarga Ananta menjadi pertaruhan besar. Beberapa kali wajah Tuan Ananta, Yudhistira, dan Tuan Sinyo muncul di wawancara tanpa izin. Mereka bertiga kompak untuk bungkam.Di tengah berita yang menghimpit itu, perubahan fisik pada tubuhku makin sulit kusembunyikan. Usia kandunganku yang mulai memasuki bulan keempat membuat bagian perutku agak membuncit. Beruntung, seragam pelayan yang kukenakan masih mampu menyamarkannya dari penglihata
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.







