Pertanyaan Yumna membuat darahku serasa berhenti mengalir. Aku tersentak pelan, berusaha menguasai raut wajah dan mengendalikan detak jantungku yang masih berdebar kencang.“Nggak... nggak ngapa-ngapain, Mbak,” sahutku cepat, buru-buru meletakkan botol parfum berbotol amber itu kembali ke atas meja rias. “Cuma... tadi nggak sengaja liat parfum-parfum di sini. Iseng nyium wanginya, terus kaget pas Mbak Yumna tiba-tiba manggil. Maaf ya Mbak...”Yumna menatap botol parfum yang baru saja kutaruh, lalu tatapannya beralih padaku dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekati meja rias, meletakkan lipatan gorden bersih di atas kursi.“Oh... parfum yang itu,” gumam Yumna pelan. Ia mengambil dan mencium permukaan botol parfum tersebut. “Itu parfum kesayangan Mas Sinyo dari dulu. Aromanya khas banget, kan?”Aku menelan saliva yang terasa kesat di tenggorokan. Parfum kesayangan Tuan Muda Sinyo?“I-iya, Mbak... wanginya enak,” jawabku terbata, berusaha sekuat tenaga menetralkan
Magbasa pa