Share

Bab 73

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-08-08 10:04:03

“Pelayan senior?” tanyaku.

“Iya, Sil. Tapi kamu kan tinggal di paviliun Lavender, kamu bisa tanya ke Ibu Diana atau mencari tau di kamar Tuan Muda Sinyo. Paviliun Lavender adalah tempat tinggal khusus Tuan Muda,” jelas Kayla lagi.

Aku mengangguk-angguk pelan, menyerap setiap informasi yang disampaikan Kayla. Kenyataan bahwa Paviliun Lavender ini sebenarnya adalah wilayah kekuasaan Tuan Muda Sinyo membuat tempat sepi ini terasa makin misterius sekaligus penting.

Kayla menghela napas panjang, lal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 178

    Lampu merah di atas pintu ruang operasi darurat (Emergency Operating Theater) menyala terang. Di dalam sana, tim dokter spesialis tengah bertarung melawan maut untuk menyelamatkan nyawa Mas Bara. Operasi thoracotomy darurat harus segera dilakukan untuk menghentikan pendarahan hebat di rongga dada akibat luka tembak tembus dari dada depan hingga punggung belakangnya.Aku berdiri mematung di dekat jendela kaca lorong, masih mengenakan piyama yang kotor berbercak noda darah kering milik suamiku. Jemariku yang saling bertaut tak berhenti bergetar, sementara air mata terus mengalir tanpa suara.Di sana juga menunggu Ibu Diana, Yumna, Nyonya Salma dan beberapa pengawalnya. Ruang tunggu itu hanya diisi keluarga Ananta saja. Nyonya Salma dan Yumna menggunakan beberap kursi untuk bisa duduk dengan lebih santai. Mengingat traumatis mereka yang sedang mengandung. Ibu Diana juga disediakan kursi yang panjang agar beliau bisa istirahat. Operasi ini akan memakan waktu yang panjang, dan mereka bersi

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 177

    Langkah sepatu lars berat itu kian dekat, bergema mengintimidasi di sepanjang lorong lantai atas Paviliun Lavender. Setiap pintu kamar yang terlewati ditendang paksa dari luar, disusul suara barang-barang berjatuhan dan kaca pecah yang makin menambah mencekamnya suasana malam.Mas Bara merangkul bahu ibunya, menuntun Ibu Diana ke arah kamar mandi dengan gerakan tanpa suara. Namun saat ia berpaling hendak memintaku ikut bersembunyi, aku menahan lengannya dan menggeleng tegas. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian menghadapi bahaya di luar.Melihat bantahanku, Mas Bara menatapku tajam seraya menggenggam erat kedua bahuku. "Tolong aku, Silvia... temani Mama. Jangan buat aku terdistrak," bisiknya kekeh dengan suara bergetar namun penuh penekanan.Tatapannya yang sarat permohonan membuat dadaku sesak. Demi tak memecah fokusnya, aku akhirnya menuruti permintaannya. Aku mencium bibirnya, memberinya semangat untuk tetap bertahan, Mas Bara membalas ciuman itu di depan ibunya sebagai penguk

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 176

    Pukul dua dini hari, ketenangan di Paviliun Lavender pecah menjadi neraka.JEGLEK!Seluruh aliran listrik mendadak mati total. Kegelapan pekat menyergap seketika. Belum sempat aku bangkit dari tempat tidur di kamar pelayan, suara rentetan tembakan senjata api otomatis bergema tajam dari arah pintu gerbang Mansion Utama, disusul suara dentuman keras pecahan kaca."Semua tiarap! Jangan ada yang menyalakan cahaya!" suara Hans terdengar membentak dalam kegelapan lorong.Suara jeritan Salma dan Yumna pecah di ruang tengah. Aku segera berlari keluar kamar, mengusap perut empat bulanku yang bergetar hebat. Dalam remang cahaya bulan yang menembus jendela, kulihat Hans bergerak cepat mematikan sisa sakelar darurat dan mengunci pintu-pintu utama."Hans, apa yang terjadi?!" pekik Nyonya Salma histeris seraya memeluk erat kotak perhiasannya."Kelompok bersenjata mendobrak Mansion Utama! Tuan Ananta dan Nyonya Rika sudah disekap!" napas Hans memburu, jarinya berada tegas di atas picu senjata api.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 175

    Aku mengiringi Nyonya Salma saat melangkah keluar dari Mansion. Nyonya Salma terlihat begitu ceria sepanjang jalan bahkan bercerita kepadaku soal rencana merenovasi kamar bayi di Mansion hanya untuk cucu dari Tuan Sinyo. Sungguh aku tidak cemburu hanya... entahlah ini terlalu banyak dibumbui kepentingan pribadi.Pelayan termasuk aku membawa beberapa kotak pemberian Nyonya Rika. Wajah wanita itu berseri-seri, memancarkan kepuasan yang tak lagi disembunyikannya. Baginya, penerimaan Nyonya Rika atas kehamilannya adalah kemenangan telak untuk mengamankan statusnya di keluarga Ananta."Lihat ini, Silvia," ujar Salma dengan nada sombong saat kami menyusuri jalan setapak taman menuju Paviliun Lavender. "Ibu Rika tahu mana menantu yang benar-benar membawa keberuntungan untuk keluarga ini. Kamu simpan semua kotak ini di kamarku ya...""Baik, Nyonya," balasku singkat, menundukkan kepala seraya memeluk erat sebuah kotak di dadaku.Mas Bara telah memilih melarikan diri ke kantor dan apartemennya,

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 174

    Langkah kami terhenti di ambang ruang keluarga utama yang megah. Nyonya Rika sudah menyambut kedatangan Salma dengan senyum lebar yang begitu antusias. Ibu tiri Mas Bara itu melangkah cepat, memeluk Salma dengan kehangatan yang tak pernah kulihat sebelumnya, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa beludru."Selamat, Salma! Ibu senang sekali saat mendengar kabar kehamilanmu kemarin," ujar Nyonya Rika seraya menggenggam erat kedua tangan menantunya. “Ibu jadi cepat-cepat mempersiapkan semua yang terbaik untuk cucu.”"Terima kasih banyak, Ibu Rika. Cucunya masih harus menunggu lama, dan maaf Salma baru bisa main ke sini," jawab Salma lembut, menampilkan senyum santun yang tampak begitu sempurna.Ia seakan lupa bagaimana perlakuan kejam Ibu Rika yang sempat membuatnya kaku dan takut.Aku melangkah perlahan ke meja samping, meletakkan bingkisan yang kubawa dengan kepala tetap menunduk dalam-dalam. Diikuti beberapa pelayan yang meletakkan bingkisan juga. Sebagai pelayan, aku berusaha sebisa mu

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 173

    Keluarnya Mas Bara dari kamarku malam itu menjadi awal dari jarak yang kian membentang lebar di antara kami. Pria itu benar-benar tidak kembali ke Paviliun Lavender setelah perdebatan dingin kami. Dari desas-desus yang kudengar dari Hans saat ia membereskan beberapa berkas di ruang kerja, Mas Bara memilih menghabiskan seluruh waktunya di kantor Ananta Group atau menginap di apartemen pribadinya di pusat kota. Ia sengaja menarik diri sepenuhnya, menjauh dari jangkauanku dan juga dari Salma. Pria itu meninggalkan rumah ini dalam ketegangan yang menggantung, seolah melarikan diri dari kerumitan rumah tangga yang tak sanggup ia urai atau sengaja ia gantung.Satu hari berlalu tanpa kabar, disusul hari berikutnya yang terasa kian sunyi di paviliun. Ketidakhadiran Mas Bara menciptakan canggung yang nyata di antara para penghuni. Salma lebih banyak mengurung diri di kamar, sesekali keluar hanya untuk makan dengan wajah pias. Tanpa perlindungan Mas Bara di sisinya, posisi Salma sebenarnya sang

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 4

    Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 3

    “Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 2

    Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.

  • Menikahi Tuan Tanah Misterius    Bab 1

    ‘Silvi, jangan balik ke rumah. Rumah kita hancur. Pergilah ke rumah Eyang Gun, sekarang juga. Maafkan Papa, Nak... Untuk sementara jangan tarik uang di ATM setelah tiba di sana, jangan pakai kartu kredit, itu akan mudah dilacak. Tarik uang simpananmu semaksimal mungkin sekarang.’Aku turun dari bus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status