Cahaya matahari pagi yang menerobos masuk dari sela gorden tebal menyengat wajahku. Kepalaku terasa sangat berat, pening, mual, dan seluruh persendianku ngilu. Saat kesadaranku perlahan terkumpul, rasa dingin dari sprei sutra di bawah tubuhku seketika memicu kesadaranku.Aku menyibak selimut dengan panik. Tubuh polosku tanpa sehelai kain. Ingatan tentang bentakan Yudistira di balkon, rasa pusing akibat alkohol, hingga kehangatan sentuhan pria yang sangat kuyakini sebagai Mas Bara mendadak berputar di kepala.“Sudah bangun, Lavender?” sapanya seperti biasa, memakai bahasa Inggris.Suara berat dan dingin itu mengejutkanku, refleks kutarik selimut menutupi sampai leher.Tanpa kusadari Tuan Muda Sinyo duduk di sudut kamar, berbalut kemeja satin hitam dan topengnya. Tanpa membuang waktu, ia berdiri melangkah mendekati ranjang dan melempar sebuah map berkas tepat ke pangkuanku.“Tanda tangani ini!” perintahnya singkat.Jemariku yang gemetar membuka lembaran kertas itu. Mataku membelalak mem
Read more