Hening yang menyusul teriakan Helena terasa begitu berat, seolah dinding-dinding ruang kerja itu sendiri sedang menahan napas.Helena masih terengah-engah di atas meja kayu yang dingin, menanti amarah yang akan menghancurkannya. Namun, bukannya tamparan atau bentakan murka, Arthur justru melangkah mundur sedikit.Sebuah senyum menyungging di bibirnya, bukan senyum hangat, melainkan seringai sinis yang jauh lebih mengerikan daripada wajah datarnya.Arthur meraih sebuah gelas kristal berisi cairan kecokelatan yang pekat di sudut mejanya, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan suara denting yang tajam.“Jadi, dia pikir aku pria yang cacat secara fungsional?” ucap Arthur dengan nada rendah, stabil, dan tanpa emosi yang meluap-luap.“Selene memang cerdas dalam bisnis, tapi dia terlalu sombong untuk menyadari bahwa aku tidak akan pernah membiarkan benih Grosvenor tumbuh di rahim wanita yang hanya menganggapku sebagai stempel pajak.”Helena menatap pria itu dengan bingung. “A
Read more