“Jangan hanya berdiri di sana, Helena. Kemari.”Helena yang sedang berdiri kaku di sana lantas tersentak usai mendengar perintah sang Duke untuk mendekat.Pria itu sudah berada di dalam air, menyandarkan punggung kokohnya pada tepian bak. Bahunya yang lebar terpampang jelas, kecokelatan dan berkilau oleh sisa air yang mengalir turun ke dada bidangnya yang berotot.Helena melangkah perlahan, namun kakinya terasa berat seolah terikat timah. “S-saya harus mulai dari mana, Tuan?”“Gosok bahuku. Ototku kaku sekali karena rapat dengan dewan seharian,” perintah Arthur tanpa menoleh sedikit pun.Dengan tangan yang gemetar hebat, Helena berlutut di belakang pria itu. Ia mencelupkan kain ke dalam air hangat, lalu perlahan menyentuh kulit bahu Arthur.Saat jemarinya yang halus bersentuhan dengan kulit kasar sang Duke, sebuah desahan rendah lolos dari bibir pria itu, hingga membuat Helena berjengit kaget.“Tekan lebih kuat. Kau tidak sedang mengelap meja, Helena,” tegur Arthur.“Maaf, Tuan,” bisi
Última actualización : 2026-03-26 Leer más