Helena mencoba menarik pergelangan tangannya, namun cengkeraman Arthur terasa seperti borgol besi yang dingin.Punggungnya membentur meja kerja mahoni yang keras, membuat beberapa pena bulu di atasnya bergetar pelan.Dia lalu menatap mata Arthur, mencari sedikit saja jejak belas kasihan atau penjelasan terkait surat pemerasan itu, namun ia hanya menemukan kekosongan yang mematikan.“Maafkan saya, Tuan ... saya benar-benar tidak sengaja melihatnya. Saya hanya ingin mengambil jas Anda,” bisik Helena, suaranya pecah oleh ketakutan.Arthur tidak membalas permintaan maaf itu. Ia justru menarik Helena lebih dekat hingga napas pria itu yang beraroma tembakau menerpa keningnya.Tanpa melepaskan pergelangan tangan Helena, Arthur memutar tubuh wanita itu dengan satu sentakan kuat, memaksanya menghadap rak buku yang tinggi.“Kau selalu ingin tahu terlalu banyak, Helena,” ucap Arthur datar di balik tengkuknya. “Dan rasa ingin tahu di kastil ini dibayar dengan kepatuhan total.”Dengan gerakan yang
Read more