Pintu jati besar itu terbanting terbuka, menghantam dinding dengan dentuman yang mengguncang pajangan porselen di sudut ruangan. Selene melangkah masuk dengan gaun sutra berwarna hijau zamrud yang berdesir tajam, wajahnya sepucat kertas namun matanya menyala merah.Di tangannya, ia meremas map kulit berisi dokumen pengalihan proyek batubara yang kini sudah tampak lusuh.“Tanda tangani ini, Arthur! Sekarang!” teriak Selene, suaranya melengking memecah ketenangan pagi.“Atau aku bersumpah, gadis pelayan sialan itu akan dilempar keluar dari gerbang Grosvenor tanpa referensi kerja, tanpa uang sepeser pun, dan dengan catatan kriminal yang akan membuatnya membusuk di jalanan!”Helena yang sedang berdiri di dekat jendela, baru saja meletakkan nampan teh, merasakan sekujur tubuhnya mendingin.Ancaman tanpa referensi adalah hukuman mati bagi karier seorang pelayan. Namun, sebelum ia sempat menunduk ketakutan, sebuah suara yang berat dan stabil memotong amarah Selene.“Duduklah, Selene. Kau ter
Read more