Selene berdiri mematung di sisi ranjang yang berantakan, jemarinya yang terbungkus sarung tangan renda meremas udara kosong. Wajahnya yang semula bersemu merah karena kemenangan, kini memucat seperti lilin yang hampir padam.Arthur melangkah pelan, mengitari Jaksa Miller yang masih kebingungan, lalu berhenti tepat di depan istrinya.“Kau terlihat kecewa, Selene. Bukankah seharusnya kau senang karena barang berhargamu tidak benar-benar hilang?”“Aku ... aku hanya yakin bahwa aku meletakkannya di sekitar sini, Arthur!” Selene mencoba mendapatkan kembali kendali atas suaranya, meski nada bicaranya gemetar.“Menarik,” sahut Arthur dengan nada sarkastik yang kental. Ia merogoh saku jasnya, namun bukan untuk mengeluarkan bros itu, melainkan hanya untuk merapikan lipatan kainnya.“Lucu sekali bagaimana kau begitu yakin hingga membawa Jaksa wilayah ke kamar pribadiku. Padahal, jika kita ingat kembali, kau jugalah yang membawa Helena ke kastil ini.“Kau bilang dia adalah perawat terbaik dari k
Read more