Leo tidak menjawab. Ia menumpahkan kacang sangrai ke batu datar, menambahkan irisan cabe kecil-kecil, sejumput garam, lalu mulai menggiling semuanya bersama. Gesekan batu dengan kacang dan cabe menghasilkan bunyi berat yang akrab, bunyi dapur miskin yang bekerja keras buat mengeluarkan rasa dari bahan seadanya. Ketika kacang sudah pecah halus dan cabe menyatu, Leo menuangkan sedikit minyak panas. Hanya sedikit. Setetes dua tetes lebih, minyaknya justru habis sia-sia. Begitu minyak panas menyentuh adonan itu, aroma cabe dan kacang naik sekaligus. Tidak mewah, tapi tajam dan hidup. Aroma itu keluar dari pintu dapur, menyeberang sampai ke teras. Dari luar, suara sapu lidi berhenti sesaat. Wati Wang yang tadi pura-pura sibuk jelas masih belum jauh dari pagar. Darman mendekat satu langkah. "Warnanya galak sekali." Andika masih bertahan di ambang pintu. "Aku bilang
Read more