Melina mengusap kepala mereka dengan senyum puas. "Dengar, Bu. Anak-anak saja tahu rumah Leo harus berbagi." Angeline memandang kedua anak itu, lalu menurunkan suaranya. "Besok atau lusa kita lihat lagi. Kalau Leo pulang dari kota membawa hasil, rumah tua harus tahu dulu." Victor mencondongkan badan. "Maksud Ibu, kita datang lagi?" "Datang bukan kata yang tepat." Angeline mengetuk meja dengan ujung jarinya. "Kita menagih bakti." Budi mengangkat mata sedikit. "Kalau tetangga ikut melihat, Leo bisa marah." "Biarkan," kata Angeline. "Kalau dia marah pada orang tua, orang desa akan tahu siapa yang tidak berbakti." Melina tertawa halus. "Kalau dia tidak marah, kita ambil bagian. Kalau dia marah, dia kehilangan muka. Dua-duanya bagus." Di sudut rumah, suami Melina yang sejak tadi diam ikut mendengus. Ia bukan orang yang banyak bicara, tetapi se
Read more