Livia berdiri di ambang pintu, wajahnya menahan cemas. Ia tidak melarang, tetapi tangannya masih memegang kain penutup Wu Wei Zi, seolah ingin mengingatkan Leo bahwa rumah itu sekarang punya terlalu banyak hal yang harus dijaga. Di ladang ubi, kerusakan tampak lebih menyakitkan daripada kabar yang dibawa warga. Tanah yang semalam masih rapi kini terbalik, daun ubi patah, beberapa umbi setengah tercungkil, dan jejak berat menekan lumpur sampai dalam. Perempuan paruh baya yang ladangnya rusak berjongkok di pinggir tanah, memegang batang ubi dengan mata merah. “Ini cadangan makan anakku kalau jatah beras habis. Satu malam saja rusak begini, nanti kami makan apa?” Leo berjongkok di dekat jejak paling dalam. Ia mengamati arah masuk, kedalaman kuku, tanah yang terbalik, bekas gosokan tubuh pada batang rendah, semak patah di tepi ladang, dan jalur basah yang mengarah ke sumber air. Togar sengaja
Baca selengkapnya