Pasar distrik sedang ramai ketika mereka tiba. Bau sayur layu, minyak lama, asap tungku, dan keringat orang yang berjalan jauh bercampur di antara kios-kios kayu, sementara di ujung jalan, papan toko obat Surya Xu menggantung di bawah atap genteng tua. Toko itu tidak besar, tetapi terasa berbeda dari kios kudzu dan sayur. Rak kayu memenuhi dinding, laci-laci kecil diberi tanda tinta, bungkusan obat diikat tali rami, dan timbangan kecil diletakkan dekat batu penekan kertas yang menahan catatan harga agar tidak mudah dilihat pembeli. Bayu Qian, asisten toko yang wajahnya lancip dan matanya tajam, sedang membungkus akar kering untuk seorang pelanggan. Begitu melihat Leo masuk dengan pakaian desa dan bungkusan di tangan Andika, senyumnya miring sebelum mulutnya benar-benar bicara. “Bukankah ini penjual pati kudzu?” Bayu meletakkan tali rami di meja, lalu menatap bungkusan kecil itu. “Toko obat bukan tempat
Read more