Leo lalu mengatur ulang tugas satu per satu. Rian dan Bima tetap fokus pada kudzu, Livia memindahkan tampah Wu Wei Zi ke dalam jika ada orang asing, Andika mencatat semua pertanyaan, Darman mengawasi pagar tanpa memukul siapa pun, sementara Rudi dan Eko tidak boleh menjawab pertanyaan orang luar. Darman mengusap rahangnya. “Kalau orang itu datang lagi dan terus mengorek?” “Kau dengar, lihat, lalu lapor,” jawab Leo. “Kalau kau memukul lebih dulu, besok cerita berubah menjadi rumahku menindas warga yang mencari rezeki.” Darman tampak tidak puas, tetapi ia mengerti. Di desa seperti ini, satu pukulan bisa diubah menjadi fitnah, apalagi jika orang pasar punya uang kecil untuk membeli saksi. Wati Wang datang ketika aturan baru itu baru selesai diucapkan. Ia membawa mangkuk kecil, masih dengan alasan garam, tetapi matanya terlalu cepat melirik ke arah tampah dan keranjang
Read More