Aku mencengkeram erat sudut selimut dan berkata dengan suara dingin, "Dia mau mati atau hidup nggak ada urusannya sama aku. Aku nggak mau terlibat dalam urusan kalian, jangan bawa-bawa aku lagi."Dia menyodorkan apel yang sudah dikupas kepadaku. "Kamu takut sama aku? Kamu pikir aku dingin banget, ya? Aku cuma nggak mau pas aku masuk penjara nanti, mereka masih ganggu ketenangan hidupmu."Aku sama sekali tidak berniat menerimanya. "Makasih, tapi aku beneran nggak butuh kamu berbuat nekat buat aku. Aku cuma mau kamu cerai sama aku, terus kita jalani hidup masing-masing."Dia tertawa kecil lalu menggigit apel itu sendiri. Di mata hitam pekatnya, terpancar banyak emosi yang tidak bisa kupahami.Emosi yang terasa panas dan membara.Dengan mata memerah, dia bertanya padaku, "Setelah aku diproses secara hukum, masuk penjara, dan menebus dosaku, apa kita bisa mulai dari awal lagi?""Nggak bisa."Aku menatapnya dengan sangat tenang tanpa rasa benci sedikit pun, lalu berkata datar, "Kadang aku b
続きを読む