LOGINSetelah aku menolak mendonorkan hati untuk kakakku, ibu dan ayah malah mengirimku ke tempat tidur anak konglomerat Kota Jakata. Katanya, pria itu sosok yang dingin dan sulit didekati karena sudah punya pujaan hati. Semua orang menunggu kehancuranku, tapi tidak ada yang menyangka kalau dia justru akan memanjakanku setinggi langit. Selama tiga tahun menikah, dia selalu suka bermesraan denganku di berbagai tempat. Saat aku pergi ke kamar mandi pun, dia akan mengikutiku dan menekanku di atas wastafel. Kami juga tidak pernah pakai pengaman, tapi aku tidak kunjung hamil. Sampai akhirnya aku mengira diriku hamil dan pergi ke rumah sakit untuk periksa, lalu tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan dokter. "Andi, tiga tahun lalu kamu nyuruh aku mindahin sebagian hati Cintaya secara diam-diam ke kakaknya, sekarang kamu malah nyuruh aku bohongin dia kalau dia mandul bawaan. Kok kamu tega banget sih berbuat sekejam itu sama wanita yang cinta kamu?" "Mau gimana lagi, hati Chika nggak bagus kondisinya. Kalau dia nggak bisa punya anak, aku takut dia bakal menderita di keluarga suaminya nanti, cuma hati Cintaya yang cocok sama dia." Suara pria yang sangat akrab itu terdengar dingin dan asing. Ternyata cinta dan perlindungan yang selama ini sangat aku percayai hanyalah penipuan belaka. Kalau sudah begini, aku mending pergi saja.
View MoreAku mencengkeram erat sudut selimut dan berkata dengan suara dingin, "Dia mau mati atau hidup nggak ada urusannya sama aku. Aku nggak mau terlibat dalam urusan kalian, jangan bawa-bawa aku lagi."Dia menyodorkan apel yang sudah dikupas kepadaku. "Kamu takut sama aku? Kamu pikir aku dingin banget, ya? Aku cuma nggak mau pas aku masuk penjara nanti, mereka masih ganggu ketenangan hidupmu."Aku sama sekali tidak berniat menerimanya. "Makasih, tapi aku beneran nggak butuh kamu berbuat nekat buat aku. Aku cuma mau kamu cerai sama aku, terus kita jalani hidup masing-masing."Dia tertawa kecil lalu menggigit apel itu sendiri. Di mata hitam pekatnya, terpancar banyak emosi yang tidak bisa kupahami.Emosi yang terasa panas dan membara.Dengan mata memerah, dia bertanya padaku, "Setelah aku diproses secara hukum, masuk penjara, dan menebus dosaku, apa kita bisa mulai dari awal lagi?""Nggak bisa."Aku menatapnya dengan sangat tenang tanpa rasa benci sedikit pun, lalu berkata datar, "Kadang aku b
Andi kembali naik pitam dan melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau istilah sial lainnya.Seolah-olah kalau mereka tidak mengucapkannya, aku tidak akan benar-benar mati saja.Chika yang mendengarnya di samping merasa kegirangan. "Kalau gitu rawat saja dia beberapa hari lagi, kalau kondisinya buruk nanti malah nular ke aku. Andi, kamu nggak usah khawatir, aku pasti bakal keluar dari meja operasi dengan selamat."Dokter tidak bermoral yang dulu pernah mengoperasiku menatap Chika, lalu beralih menatapku yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tetap bungkam.Mungkin dia merasa kasihan melihatku yang sebentar lagi akan dikosongkan.Seminggu kemudian, aku didorong masuk ke ruang operasi. Begitu jarum anestesi disuntikkan, aku kehilangan kesadaran sepenuhnya.Saat kesadaranku perlahan pulih, aku hanya merasakan tanganku sedikit mati rasa. Bukankah seharusnya aku sudah mati karena jantungku dibelah? Kenapa aku masih bisa merasakan sesuatu?
Samar-samar aku seolah mendengar suara tulang yang retak, disusul oleh teriakan melengking seperti babi yang hendak disembelih.Chika menatap tidak percaya sambil memegangi dadanya dengan raut sedih. "Andi, kamu kenapa sih? Dia 'kan sudah bikin kita berdua hancur dan dipermalukan kayak gini. Kamu tahu nggak? Aku sampai keguguran gara-gara dia, dadaku sakit banget."Kilatan amarah yang dingin muncul di sela alis pria itu, dia berkata datar, "Jantungmu itu memang punya dia, kalau sekarang kamu keguguran ya itu sudah hukumanmu."Chika tampak sangat terpukul dan langsung terduduk lemas di kursi sampingnya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia mencengkeram tangan pria itu dan bertanya, "Andi, kamu nyuruh aku ke sini cuma buat pamer kemesraan kalian? Sekarang karena kamu merasa bersalah sama dia, kamu tega nyakitin perasaanku?"Sambil bicara, dia melirikku dengan penuh kebencian, seolah-olah aku adalah pelakor yang sudah merebut suaminya.Benar-benar dunia sudah terbalik.Andi menghempaskan tan
Di tengah kerumunan, entah siapa yang melemparkan botol minuman yang belum habis ke wajah Chika, hingga cairan kuning yang tidak jelas membasahi seluruh wajahnya."Benar-benar nggak tahu malu! Sialan, aku sudah nggak tahan lagi dengarnya.""Memangnya nyawa Cintaya bukan nyawa?"Setelah itu, botol dan kaleng makin banyak berdatangan silih berganti.Para wartawan pun berhamburan melarikan diri. Ibu Chika merangkul putrinya dengan mengenaskan, mereka berusaha menghindari serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan hujan dan melarikan diri layaknya tikus got. Dari balik layar, aku menikmati tontonan lelucon ini dengan perasaan puas.Yoga meneleponku, suaranya terdengar sedikit lemah yang tidak biasa. "Ada lagi yang kamu butuhin dari aku? Masukin saja ke paket perceraian, aku nggak bakal narik biaya tambahan kok."Aku mencoba mengingat kembali apa yang belum kuselesaikan. "Ehm, aku minta tolong, kalau nanti aku meninggal, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarin Andi mengurungku,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.