共有

Bab 3

作者: Najin
Ibuku langsung melotot dan memakiku, "Kamu 'kan nggak hamil, punya tangan dan kaki juga, masa nggak bisa jaga diri sendiri? Dari kecil kamu itu egois banget, disuruh lakuin sesuatu sedikit saja sudah mengeluh sakit."

Ibu melahirkanku hanya untuk mengambil darah tali pusat demi mengobati kakakku. Di matanya, aku hanyalah alat medis bagi kakakku dan tidak boleh membangkang sedikit pun.

Aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku pun meletakkan alat makan dan berniat masuk ke kamar kecilku dulu untuk menenangkan diri. Tapi, ternyata kamar itu sudah berubah menjadi gudang.

Air mata mendadak jatuh membasahi pipi. Aku pun segera mengusapnya dengan asal.

"Kamu lagi ngambek sama Andi? Kayaknya kamu belum sadar posisi ya, hubungan aku sama Andi itu sudah terjalin bertahun-tahun, nggak bakal bisa kamu lampaui." Chika menyusul masuk dengan nada bicara sombong, persis seperti istri sah yang sedang memaki pelakor.

Aku tertawa sinis. "Terus kenapa kamu nggak nikah saja sama dia?"

Senyum di sudut bibirnya makin dalam dan penuh maksud. "Sesuatu yang nggak didapatkan itu justru yang terbaik. Aku mau dia terus mikirin aku dan jadi pelindungku selamanya."

Aku terdiam tanpa kata dan menatap perutnya dengan tatapan kosong, lalu tanpa sadar tanganku menyentuhnya.

Chika tersenyum makin puas kemudian mendekat ke telingaku dan berbisik, "Iri ya? Sayangnya seumur hidup kamu nggak akan bisa punya anak lagi karena sebagian hati kamu ada di tubuhku."

"Katanya kalau sebagian hati hilang itu menderita banget ya, harus minum obat hormon seumur hidup dan ada efek samping yang parah. Waktu aku bilang begitu ke Andi, dia nggak tega lihat aku menderita dan langsung bilang mau bantuin aku."

"Makanya dia mau nikahin kamu dan manjain kamu. Oh iya, dia juga bilang kesehatan aku itu nggak stabil, jadi kamu harus dirawat dengan baik buat cadangan, kalau sewaktu-waktu aku butuh. Kamu harusnya berterima kasih sama aku, nilai kamu itu cuma sebatas alat buat aku, di dunia ini nggak ada satu orang pun yang mencintaimu."

Ujung jariku mencengkeram telapak tangan dengan kuat. Saat aku mengangkat tangan hendak menamparnya, pintu mendadak terbuka.

Di ambang pintu, Andi tampak sangat murka. Dia berlari menghampiriku lalu mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat dan membentak, "Apa yang kamu lakukan? Kok kamu tega mau mukul kakakmu?!"

Aku tertawa mengejek. "Kenapa? Kamu kasihan? Kalau kasihan kenapa nggak kamu bawa pulang saja, terus kamu manjain di rumah?"

Aku tidak pernah bicara sekasar itu padanya. Pria itu sempat tertegun dan baru saja hendak mengatakan sesuatu.

Chika tiba-tiba memegang perutnya dengan ekspresi kesakitan. "Kalian jangan bertengkar gara-gara aku, ini semua salahku yang sudah bikin Cintaya nggak senang. Sudah sewajarnya kalau dia tampar aku. Aku nggak butuh pelayan itu lagi, aku mohon Cintaya jangan tampar aku lagi."

Tatapan mata Andi seketika menjadi sangat dingin saat melihatku. "Cintaya, minta maaf!"

Aku mengepalkan kedua tangan erat-erat sampai kuku menusuk ke dalam daging demi menahan tubuhku yang gemetar.

"Kamu nyuruh aku minta maaf?! Andi, kamu sebenarnya tahu nggak sih apa yang barusan terjadi?"

"Cukup!" Andi langsung memotong perkataanku, "Cintaya, kamu benar-benar bikin aku kecewa. Sejak kapan kamu jadi begini! Chika itu kakakmu, meskipun kamu iri sama dia, nggak seharusnya kamu main tangan!"

Setelah mengatakan itu, dia sama sekali tidak melirikku lagi lalu menggendong Chika dan berjalan keluar.

Aku melihat Chika bersandar di bahu Andi dengan pose pemenang sambil tersenyum puas ke arahku.

Namun, dia tidak bisa lagi menyakitiku.

Aku tidak akan memedulikan pria ini sedikit pun lagi.

Aku memesan taksi untuk pulang dan mengemas barang-barangku. Tapi, tiba-tiba aku menerima pesan WhatsApp dari Andi.

[Chika lagi sedih banget sekarang, aku kasih kamu satu kesempatan lagi. Malam ini kamu harus datang dan minta maaf secara langsung. Jangan sampai aku suruh orang jemput kamu!]

Nada bicaranya tidak menerima bantahan, seolah dia sudah yakin kalau akulah pihak yang bersalah.

Dia bahkan berpesan agar aku membelikan hadiah untuk kakakku sebagai tanda permintaan maaf.

Namun, dia tidak tahu kalau aku sudah selesai membereskan koperku.

Aku naik taksi, langsung menuju bandara.

Di dalam mobil, aku mengirimkan pesan terakhir untuknya, [Oke, aku bakal kasih hadiah yang sangat besar.]

Setelah mengirim pesan itu, aku mencabut kartu SIM dan mematahkannya lalu membuangnya keluar jendela mobil dan membiarkan semuanya sirna begitu saja.

Keesokan paginya, sebuah paket kilat tiba di kantor CEO Grup Prasetyo.

Andi membuka paket tersebut, selembar kertas ringan jatuh dari dalamnya.

Dia hanya melirik kertas itu sekilas. Tapi, wajahnya langsung berubah drastis. Dengan tangan gemetar dia segera menelepon.

Namun, sudah tidak ada yang menjawab.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Ujung Senja   Bab 9

    Aku mencengkeram erat sudut selimut dan berkata dengan suara dingin, "Dia mau mati atau hidup nggak ada urusannya sama aku. Aku nggak mau terlibat dalam urusan kalian, jangan bawa-bawa aku lagi."Dia menyodorkan apel yang sudah dikupas kepadaku. "Kamu takut sama aku? Kamu pikir aku dingin banget, ya? Aku cuma nggak mau pas aku masuk penjara nanti, mereka masih ganggu ketenangan hidupmu."Aku sama sekali tidak berniat menerimanya. "Makasih, tapi aku beneran nggak butuh kamu berbuat nekat buat aku. Aku cuma mau kamu cerai sama aku, terus kita jalani hidup masing-masing."Dia tertawa kecil lalu menggigit apel itu sendiri. Di mata hitam pekatnya, terpancar banyak emosi yang tidak bisa kupahami.Emosi yang terasa panas dan membara.Dengan mata memerah, dia bertanya padaku, "Setelah aku diproses secara hukum, masuk penjara, dan menebus dosaku, apa kita bisa mulai dari awal lagi?""Nggak bisa."Aku menatapnya dengan sangat tenang tanpa rasa benci sedikit pun, lalu berkata datar, "Kadang aku b

  • Di Ujung Senja   Bab 8

    Andi kembali naik pitam dan melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau istilah sial lainnya.Seolah-olah kalau mereka tidak mengucapkannya, aku tidak akan benar-benar mati saja.Chika yang mendengarnya di samping merasa kegirangan. "Kalau gitu rawat saja dia beberapa hari lagi, kalau kondisinya buruk nanti malah nular ke aku. Andi, kamu nggak usah khawatir, aku pasti bakal keluar dari meja operasi dengan selamat."Dokter tidak bermoral yang dulu pernah mengoperasiku menatap Chika, lalu beralih menatapku yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tetap bungkam.Mungkin dia merasa kasihan melihatku yang sebentar lagi akan dikosongkan.Seminggu kemudian, aku didorong masuk ke ruang operasi. Begitu jarum anestesi disuntikkan, aku kehilangan kesadaran sepenuhnya.Saat kesadaranku perlahan pulih, aku hanya merasakan tanganku sedikit mati rasa. Bukankah seharusnya aku sudah mati karena jantungku dibelah? Kenapa aku masih bisa merasakan sesuatu?

  • Di Ujung Senja   Bab 7

    Samar-samar aku seolah mendengar suara tulang yang retak, disusul oleh teriakan melengking seperti babi yang hendak disembelih.Chika menatap tidak percaya sambil memegangi dadanya dengan raut sedih. "Andi, kamu kenapa sih? Dia 'kan sudah bikin kita berdua hancur dan dipermalukan kayak gini. Kamu tahu nggak? Aku sampai keguguran gara-gara dia, dadaku sakit banget."Kilatan amarah yang dingin muncul di sela alis pria itu, dia berkata datar, "Jantungmu itu memang punya dia, kalau sekarang kamu keguguran ya itu sudah hukumanmu."Chika tampak sangat terpukul dan langsung terduduk lemas di kursi sampingnya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia mencengkeram tangan pria itu dan bertanya, "Andi, kamu nyuruh aku ke sini cuma buat pamer kemesraan kalian? Sekarang karena kamu merasa bersalah sama dia, kamu tega nyakitin perasaanku?"Sambil bicara, dia melirikku dengan penuh kebencian, seolah-olah aku adalah pelakor yang sudah merebut suaminya.Benar-benar dunia sudah terbalik.Andi menghempaskan tan

  • Di Ujung Senja   Bab 6

    Di tengah kerumunan, entah siapa yang melemparkan botol minuman yang belum habis ke wajah Chika, hingga cairan kuning yang tidak jelas membasahi seluruh wajahnya."Benar-benar nggak tahu malu! Sialan, aku sudah nggak tahan lagi dengarnya.""Memangnya nyawa Cintaya bukan nyawa?"Setelah itu, botol dan kaleng makin banyak berdatangan silih berganti.Para wartawan pun berhamburan melarikan diri. Ibu Chika merangkul putrinya dengan mengenaskan, mereka berusaha menghindari serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan hujan dan melarikan diri layaknya tikus got. Dari balik layar, aku menikmati tontonan lelucon ini dengan perasaan puas.Yoga meneleponku, suaranya terdengar sedikit lemah yang tidak biasa. "Ada lagi yang kamu butuhin dari aku? Masukin saja ke paket perceraian, aku nggak bakal narik biaya tambahan kok."Aku mencoba mengingat kembali apa yang belum kuselesaikan. "Ehm, aku minta tolong, kalau nanti aku meninggal, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarin Andi mengurungku,

  • Di Ujung Senja   Bab 5

    "Donor ginjal?"....Aku mendengarkan suara dari luar dan hanya merasa berisik, lalu aku mengulurkan tangan untuk menekan tombol panggilan di samping tempat tidur.Detik berikutnya, Andi segera merangsek masuk dan menyentuh wajahku dengan ekspresi cemas. "Kamu akhirnya bangun juga, gimana badanmu, ada yang sakit nggak?"Aku memalingkan wajah dan berkata dengan dingin, "Kamu tanda tangani saja surat cerainya, aku muak lihat wajahmu."Andi seolah tidak memedulikan kata-kataku yang dingin itu.Dia menggenggam tanganku lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku dan memasukkannya paksa ke jari manisku sambil berkata lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang kenapa nggak minta sama aku? Besok-besok jangan jual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah di atas ranjang tanpa memedulikan jarum infus yang masih tertancap di tangan satunya. Aku mencabut cincin yang dipaksakannya itu lalu melemparkannya sekuat tenaga."Andi, aku mau cerai sama kamu, aku ma

  • Di Ujung Senja   Bab 4

    Suatu siang setengah bulan kemudian, aku sudah menetap di sebuah kota kecil di tepi pantai.Aku menjual cincin kawinku dan mendapatkan uang yang cukup banyak. Aku pun menghabiskan hari-hariku dengan menikmati makanan lezat serta pemandangan indah.Beberapa bagian tubuhku sesekali terasa sakit. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, jadi aku menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.Sambil berbaring di kursi pantai dan mendengarkan suara deburan ombak, aku merasa belum pernah hidup sebebas dan senyaman ini selama 27 tahun terakhir.Seseorang tampak berjalan menghampiriku di atas pasir, dia adalah Yoga Pratama, pengacara perceraianku.Katanya dia punya julukan Dewa Kekayaan di kalangan hukum. Selama uangnya cukup, dia bakal menerima kasus siapa pun. Memang hanya dia yang berani menerima kasus perceraianku.Pria ini terlihat urakan dengan fitur wajah yang bahkan lebih cantik dari wanita. Dua kancing teratas kemejanya selalu dibiarkan terbuka, membuatn

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status