共有

Bab 2

作者: Najin
Setiap hari dia terus membohongiku. Sudah jelas yang dia berikan padaku adalah obat hormon, malah disebut obat penguat.

Dulu aku sangat ingin memiliki anak darinya, sampai-sampai sepahit apa pun obatnya, aku akan tetap menelannya sambil tersenyum penuh harap.

Kalau dipikirkan sekarang, aku benar-benar bodoh.

Aku mendongak dan menatapnya dengan tatapan kosong. "Apa aku bakal mati? Bisa nggak kamu jujur sama aku, berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup?"

Guratan kepanikan melintas di wajah pria yang biasanya selalu tenang itu. Dia tiba-tiba memelukku erat, suaranya terdengar tercekat. "Jangan ngomong sembarangan, kamu harus nemenin aku untuk waktu yang lama."

Kata-kata manisnya selalu terdengar indah, persis seperti selama dua tahun ini setiap kali aku membahas soal kehamilan, dia selalu bilang tidak tega melihatku menderita karena mengandung.

Padahal, dia sudah tahu aku tidak bisa hamil lagi. Tapi, dia tetap membiarkanku melakukan program kehamilan yang melelahkan setiap hari, memaksaku menelan berbagai macam obat yang pahit dan tidak enak.

Dia membuatku bermimpi indah tentang kehidupan bahagia bertiga setelah anak kami lahir nanti.

Baguslah, tanpa adanya anak, maka tidak akan ada ikatan di antara kami.

Dengan begitu, aku bisa meninggalkannya dengan bersih.

Sebelum tidur, Andi seolah kerasukan dan terus meniduriku untuk waktu yang lama. Dia pun memerintahkanku agar tidak boleh lagi menyebut kata mati.

Aku menerimanya dengan pasrah. Begitu semuanya berakhir dan pria di sampingku sudah terlelap, aku mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja lalu pergi ke kamar mandi.

Kata sandi layarnya adalah hari ulang tahunku. Karena alasan itulah aku tidak pernah memeriksa ponselnya, sepertinya dia memang sengaja memanfaatkan psikologiku yang satu ini.

Saat masuk ke aplikasi WhatsApp, aku baru menyadari kalau dia memberikan nama kontak untuk kakakku dengan sebutan Chichi.

Chichi.

Itu adalah nama yang sering dia bisikkan dengan penuh gairah, saat kami sedang bermesraan di atas ranjang.

Ternyata yang dia panggil selama ini bukanlah aku. Dia hanya menjadikanku sebagai pengganti Chika untuk memuaskan dirinya sendiri.

Benar-benar konyol.

Dengan ujung jari yang gemetar, aku membuka riwayat percakapan mereka.

Saat itulah aku baru sadar.

Di saat aku menanggung efek samping obat hormon dan muntah-muntah setiap hari, dia justru mendirikan Yayasan Amal Chichi untuk Chika. Dia berharap amal kebaikan yang dikumpulkan bisa menjamin kesehatan kakakku di sisa hidupnya.

Dia ingin berbuat baik demi Chika, lalu bagaimana dengan dosa yang mereka perbuat kepadaku?

Tanpa sadar, air mata pun menetes jatuh. Aku menggigit bibir rapat-rapat sambil mengambil tangkapan layar percakapan mereka satu per satu. Hatiku sudah terasa sakit hingga mati rasa.

Aku segera pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan fisik.

Dokter mengernyitkan dahi saat melihat laporanku. "Sudah berapa kali jalani operasi? Kenapa satu ginjal dan sebagian hatimu hilang? Bahkan organ lain pun ada tanda-tanda kerusakan."

Aku tersenyum pahit. "Banyak, aku sudah nggak ingat lagi. Dengan kondisi kayak gini, berapa lama lagi aku bisa hidup?"

Dokter tidak mau memberikan kesimpulan. Dia hanya menghela napas dan menyarankanku untuk merilekskan pikiran serta jangan terlalu banyak bersedih.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku pergi ke perusahaan Andi untuk membahas soal perceraian secara resmi.

Sekretaris resepsionis menghadangku. Aku bilang aku adalah istri Andi.

Dia menatapku dengan tatapan menghina. "Banyak banget orang yang mau jadi Nyonya Prasetyo, coba deh ngaca dulu. Berani banget kamu pura-pura jadi Nyonya Prasetyo, padahal Nyonya Prasetyo yang asli lagi ada di atas sekarang."

Dadaku terasa sesak. Aku hanya bisa langsung menelepon Andi di tempat, tapi tidak ada jawaban dari sana.

Cibiran di wajah sekretaris itu pun makin menjadi-jadi.

Aku menunggu dengan tenang di lantai bawah sampai larut malam, hingga akhirnya melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Andi keluar dari lift sambil menggendong Chika.

Saat mata kami bertemu, dia tampak agak canggung. "Kamu ... kok ke sini? Anu, kaki Chika terkilir. Dia 'kan lagi hamil jadi susah jalan, makanya aku bantu dia."

Chika bersandar di pelukan Andi sambil tersenyum lembut. "Cintaya, suamiku lagi dinas ke luar negeri, jadi aku pinjam suami kamu sebentar ya buat jagain aku."

Isi kepalaku hanya dipenuhi oleh kata wanita hamil.

Chika menggunakan hatiku, lalu sekarang dia hamil.

Dadaku seketika terasa seperti digilas oleh ribuan duri tajam, sakitnya sampai membuatku sesak napas. "Andi, ada yang mau aku omongin sama kamu."

"Nanti aja ngomongnya, kakakmu sudah lapar. Kita balik dulu ke rumah ibumu buat makan."

Ibuku sudah menyiapkan semeja penuh masakan kesukaan Chika untuk merayakan kehamilannya.

Chika malah menutup hidungnya dan bilang nafsu makannya sedang tidak baik. Andi pun mengusulkan untuk mengirim pelayan yang biasanya merawatku di rumah untuk memasak untuknya.

Sudut bibir Chika sedikit terangkat sambil menunjuk ke arahku. "Nggak usah deh, kayaknya Cintaya lagi nggak senang tuh. Aku nggak mau kalian jadi bertengkar gara-gara aku."
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Ujung Senja   Bab 9

    Aku mencengkeram erat sudut selimut dan berkata dengan suara dingin, "Dia mau mati atau hidup nggak ada urusannya sama aku. Aku nggak mau terlibat dalam urusan kalian, jangan bawa-bawa aku lagi."Dia menyodorkan apel yang sudah dikupas kepadaku. "Kamu takut sama aku? Kamu pikir aku dingin banget, ya? Aku cuma nggak mau pas aku masuk penjara nanti, mereka masih ganggu ketenangan hidupmu."Aku sama sekali tidak berniat menerimanya. "Makasih, tapi aku beneran nggak butuh kamu berbuat nekat buat aku. Aku cuma mau kamu cerai sama aku, terus kita jalani hidup masing-masing."Dia tertawa kecil lalu menggigit apel itu sendiri. Di mata hitam pekatnya, terpancar banyak emosi yang tidak bisa kupahami.Emosi yang terasa panas dan membara.Dengan mata memerah, dia bertanya padaku, "Setelah aku diproses secara hukum, masuk penjara, dan menebus dosaku, apa kita bisa mulai dari awal lagi?""Nggak bisa."Aku menatapnya dengan sangat tenang tanpa rasa benci sedikit pun, lalu berkata datar, "Kadang aku b

  • Di Ujung Senja   Bab 8

    Andi kembali naik pitam dan melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau istilah sial lainnya.Seolah-olah kalau mereka tidak mengucapkannya, aku tidak akan benar-benar mati saja.Chika yang mendengarnya di samping merasa kegirangan. "Kalau gitu rawat saja dia beberapa hari lagi, kalau kondisinya buruk nanti malah nular ke aku. Andi, kamu nggak usah khawatir, aku pasti bakal keluar dari meja operasi dengan selamat."Dokter tidak bermoral yang dulu pernah mengoperasiku menatap Chika, lalu beralih menatapku yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tetap bungkam.Mungkin dia merasa kasihan melihatku yang sebentar lagi akan dikosongkan.Seminggu kemudian, aku didorong masuk ke ruang operasi. Begitu jarum anestesi disuntikkan, aku kehilangan kesadaran sepenuhnya.Saat kesadaranku perlahan pulih, aku hanya merasakan tanganku sedikit mati rasa. Bukankah seharusnya aku sudah mati karena jantungku dibelah? Kenapa aku masih bisa merasakan sesuatu?

  • Di Ujung Senja   Bab 7

    Samar-samar aku seolah mendengar suara tulang yang retak, disusul oleh teriakan melengking seperti babi yang hendak disembelih.Chika menatap tidak percaya sambil memegangi dadanya dengan raut sedih. "Andi, kamu kenapa sih? Dia 'kan sudah bikin kita berdua hancur dan dipermalukan kayak gini. Kamu tahu nggak? Aku sampai keguguran gara-gara dia, dadaku sakit banget."Kilatan amarah yang dingin muncul di sela alis pria itu, dia berkata datar, "Jantungmu itu memang punya dia, kalau sekarang kamu keguguran ya itu sudah hukumanmu."Chika tampak sangat terpukul dan langsung terduduk lemas di kursi sampingnya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia mencengkeram tangan pria itu dan bertanya, "Andi, kamu nyuruh aku ke sini cuma buat pamer kemesraan kalian? Sekarang karena kamu merasa bersalah sama dia, kamu tega nyakitin perasaanku?"Sambil bicara, dia melirikku dengan penuh kebencian, seolah-olah aku adalah pelakor yang sudah merebut suaminya.Benar-benar dunia sudah terbalik.Andi menghempaskan tan

  • Di Ujung Senja   Bab 6

    Di tengah kerumunan, entah siapa yang melemparkan botol minuman yang belum habis ke wajah Chika, hingga cairan kuning yang tidak jelas membasahi seluruh wajahnya."Benar-benar nggak tahu malu! Sialan, aku sudah nggak tahan lagi dengarnya.""Memangnya nyawa Cintaya bukan nyawa?"Setelah itu, botol dan kaleng makin banyak berdatangan silih berganti.Para wartawan pun berhamburan melarikan diri. Ibu Chika merangkul putrinya dengan mengenaskan, mereka berusaha menghindari serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan hujan dan melarikan diri layaknya tikus got. Dari balik layar, aku menikmati tontonan lelucon ini dengan perasaan puas.Yoga meneleponku, suaranya terdengar sedikit lemah yang tidak biasa. "Ada lagi yang kamu butuhin dari aku? Masukin saja ke paket perceraian, aku nggak bakal narik biaya tambahan kok."Aku mencoba mengingat kembali apa yang belum kuselesaikan. "Ehm, aku minta tolong, kalau nanti aku meninggal, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarin Andi mengurungku,

  • Di Ujung Senja   Bab 5

    "Donor ginjal?"....Aku mendengarkan suara dari luar dan hanya merasa berisik, lalu aku mengulurkan tangan untuk menekan tombol panggilan di samping tempat tidur.Detik berikutnya, Andi segera merangsek masuk dan menyentuh wajahku dengan ekspresi cemas. "Kamu akhirnya bangun juga, gimana badanmu, ada yang sakit nggak?"Aku memalingkan wajah dan berkata dengan dingin, "Kamu tanda tangani saja surat cerainya, aku muak lihat wajahmu."Andi seolah tidak memedulikan kata-kataku yang dingin itu.Dia menggenggam tanganku lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku dan memasukkannya paksa ke jari manisku sambil berkata lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang kenapa nggak minta sama aku? Besok-besok jangan jual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah di atas ranjang tanpa memedulikan jarum infus yang masih tertancap di tangan satunya. Aku mencabut cincin yang dipaksakannya itu lalu melemparkannya sekuat tenaga."Andi, aku mau cerai sama kamu, aku ma

  • Di Ujung Senja   Bab 4

    Suatu siang setengah bulan kemudian, aku sudah menetap di sebuah kota kecil di tepi pantai.Aku menjual cincin kawinku dan mendapatkan uang yang cukup banyak. Aku pun menghabiskan hari-hariku dengan menikmati makanan lezat serta pemandangan indah.Beberapa bagian tubuhku sesekali terasa sakit. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, jadi aku menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.Sambil berbaring di kursi pantai dan mendengarkan suara deburan ombak, aku merasa belum pernah hidup sebebas dan senyaman ini selama 27 tahun terakhir.Seseorang tampak berjalan menghampiriku di atas pasir, dia adalah Yoga Pratama, pengacara perceraianku.Katanya dia punya julukan Dewa Kekayaan di kalangan hukum. Selama uangnya cukup, dia bakal menerima kasus siapa pun. Memang hanya dia yang berani menerima kasus perceraianku.Pria ini terlihat urakan dengan fitur wajah yang bahkan lebih cantik dari wanita. Dua kancing teratas kemejanya selalu dibiarkan terbuka, membuatn

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status