共有

Di Ujung Senja
Di Ujung Senja
作者: Najin

Bab 1

作者: Najin
Di ujung koridor rumah sakit, dokter yang tadi dengan tegas menyatakan aku mandul berkata dengan ekspresi rumit, "Kasihan dia, dia masih ngira dirinya hamil. Padahal itu cuma efek samping dari obat yang kukasih, makanya dia terus-terusan mual."

Andi Prasetyo sedikit mengernyitkan alisnya. "Kalau gitu, ganti sama obat yang efek sampingnya paling kecil. Aku nggak mau terjadi apa pun sama tubuhnya, mungkin Chika bakal butuh dia nanti."

"Kamu nggak takut suatu hari dia tahu yang sebenarnya dan bakal membencimu? Dia selalu mau kasih kamu anak, tapi dia nggak tahu kalau seumur hidupnya dia nggak akan pernah bisa jadi ibu."

Suara dokter itu kini terdengar penuh belas kasihan.

"Kalau dia benci aku pun, aku nggak punya pilihan lain. Aku benar-benar nggak tega lihat Chika menderita."

Nada bicara Andi berubah menjadi gusar, "Lagian dia sudah dapatkan posisi sebagai Nyonya Prasetyo, apa itu masih belum cukup?"

....

Aku berdiri terpaku di sudut koridor, tubuhku gemetar hebat karena tidak sanggup menahan emosi.

Posisi Nyonya Prasetyo? Ternyata begini cara dia berpikir.

Semua yang aku dapatkan sekarang sama sekali bukan karena cinta, melainkan hasil ditukar dengan hatiku sendiri.

Seluruh tubuhku mendadak lemas, aku pun tersungkur dengan keras.

Aku terjatuh dalam keadaan yang mengenaskan, seluruh organ tubuhku terasa sakit hingga aku tidak punya tenaga sedikit pun untuk bangkit.

Begitu melihatku, Andi segera melangkah lebar untuk membantuku berdiri. Mata hitamnya yang dalam menatap wajahku lekat-lekat. "Kok jatuh? Sejak kapan kamu ada di sini?"

Tanganku di balik lengan baju terkepal sangat kuat. Aku tahu kalau meluapkan kemarahan sekarang tidak akan ada gunanya. Jadi, aku pun menyandarkan diri ke pelukannya dengan patuh seperti biasa dan berkata, "Baru sampai. Hak sepatunya ketinggian, jadi kakiku terkilir."

Otot wajahnya yang tegang perlahan mulai rileks. Dia menggendongku keluar sambil berkata dengan suara berat, "Besok-besok nggak boleh pakai sepatu setinggi ini lagi."

Aku menatap wajah yang dulu sangat kupuja ini, tapi kini hanya rasa dingin yang merayap di dalam hatiku.

Kapan tepatnya dia menyuruh dokter mengambil hatiku?

Apa saat aku menjalani operasi usus buntu dua tahun lalu?

Waktu itu aku hanya merasa sedikit tidak enak badan, tapi dokter langsung mendiagnosisku menderita usus buntu dan harus segera dioperasi.

Andi sangat panik hingga menyewa seluruh lantai rumah sakit dan menyiapkan tim medis papan atas untuk menanganiku.

Saat itu aku mengira dia sangat mencintaiku dan tidak ingin terjadi hal buruk sekecil apa pun padaku.

Kalau dipikirkan sekarang, aku hanyalah domba peliharaannya. Dia merawatku dengan saksama hanya untuk menyembelih dagingku demi diberikan kepada kakakku.

Saat makan malam, Andi memaksa agar aku menghabiskan semangkuk kecil nasi.

Dia tampak lembut saat memegang sendok dan hendak menyuapiku. "Kalau kamu nggak makan dengan benar, gimana tubuhmu bisa sehat?"

Kalau tubuhku tidak sehat, maka aku tidak akan bisa memberikan organ yang sehat untuk kakakku, begitu, 'kan?

Hatiku kembali muak menatap wajah ramah penuh kepura-puraan ini.

Aku segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Tanpa memedulikan pertanyaan pria itu dari luar, aku memuntahkan semua makanan yang baru saja kutelan sampai bersih.

Ponsel di dalam saku mendadak bergetar sekali.

"Kamu serius sudah yakin mau pergi dari sini?"

Aku menggenggam ponselku erat-erat. Tanpa sadar, aku teringat nada bicara Andi yang sangat dingin saat mengucapkan kata-kata itu.

"Serius, lebih cepat lebih baik."

Tidak lama kemudian, Andi menyuruh pelayan mengambil kunci untuk membuka pintu. Dia pun menatapku sambil mengernyit. "Muntah lagi? Obat penguat yang kemarin nggak usah diminum lagi, minum yang baru diresepkan ini saja."
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Ujung Senja   Bab 9

    Aku mencengkeram erat sudut selimut dan berkata dengan suara dingin, "Dia mau mati atau hidup nggak ada urusannya sama aku. Aku nggak mau terlibat dalam urusan kalian, jangan bawa-bawa aku lagi."Dia menyodorkan apel yang sudah dikupas kepadaku. "Kamu takut sama aku? Kamu pikir aku dingin banget, ya? Aku cuma nggak mau pas aku masuk penjara nanti, mereka masih ganggu ketenangan hidupmu."Aku sama sekali tidak berniat menerimanya. "Makasih, tapi aku beneran nggak butuh kamu berbuat nekat buat aku. Aku cuma mau kamu cerai sama aku, terus kita jalani hidup masing-masing."Dia tertawa kecil lalu menggigit apel itu sendiri. Di mata hitam pekatnya, terpancar banyak emosi yang tidak bisa kupahami.Emosi yang terasa panas dan membara.Dengan mata memerah, dia bertanya padaku, "Setelah aku diproses secara hukum, masuk penjara, dan menebus dosaku, apa kita bisa mulai dari awal lagi?""Nggak bisa."Aku menatapnya dengan sangat tenang tanpa rasa benci sedikit pun, lalu berkata datar, "Kadang aku b

  • Di Ujung Senja   Bab 8

    Andi kembali naik pitam dan melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau istilah sial lainnya.Seolah-olah kalau mereka tidak mengucapkannya, aku tidak akan benar-benar mati saja.Chika yang mendengarnya di samping merasa kegirangan. "Kalau gitu rawat saja dia beberapa hari lagi, kalau kondisinya buruk nanti malah nular ke aku. Andi, kamu nggak usah khawatir, aku pasti bakal keluar dari meja operasi dengan selamat."Dokter tidak bermoral yang dulu pernah mengoperasiku menatap Chika, lalu beralih menatapku yang terbaring di ranjang rumah sakit. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tetap bungkam.Mungkin dia merasa kasihan melihatku yang sebentar lagi akan dikosongkan.Seminggu kemudian, aku didorong masuk ke ruang operasi. Begitu jarum anestesi disuntikkan, aku kehilangan kesadaran sepenuhnya.Saat kesadaranku perlahan pulih, aku hanya merasakan tanganku sedikit mati rasa. Bukankah seharusnya aku sudah mati karena jantungku dibelah? Kenapa aku masih bisa merasakan sesuatu?

  • Di Ujung Senja   Bab 7

    Samar-samar aku seolah mendengar suara tulang yang retak, disusul oleh teriakan melengking seperti babi yang hendak disembelih.Chika menatap tidak percaya sambil memegangi dadanya dengan raut sedih. "Andi, kamu kenapa sih? Dia 'kan sudah bikin kita berdua hancur dan dipermalukan kayak gini. Kamu tahu nggak? Aku sampai keguguran gara-gara dia, dadaku sakit banget."Kilatan amarah yang dingin muncul di sela alis pria itu, dia berkata datar, "Jantungmu itu memang punya dia, kalau sekarang kamu keguguran ya itu sudah hukumanmu."Chika tampak sangat terpukul dan langsung terduduk lemas di kursi sampingnya. Sambil menangis tersedu-sedu, dia mencengkeram tangan pria itu dan bertanya, "Andi, kamu nyuruh aku ke sini cuma buat pamer kemesraan kalian? Sekarang karena kamu merasa bersalah sama dia, kamu tega nyakitin perasaanku?"Sambil bicara, dia melirikku dengan penuh kebencian, seolah-olah aku adalah pelakor yang sudah merebut suaminya.Benar-benar dunia sudah terbalik.Andi menghempaskan tan

  • Di Ujung Senja   Bab 6

    Di tengah kerumunan, entah siapa yang melemparkan botol minuman yang belum habis ke wajah Chika, hingga cairan kuning yang tidak jelas membasahi seluruh wajahnya."Benar-benar nggak tahu malu! Sialan, aku sudah nggak tahan lagi dengarnya.""Memangnya nyawa Cintaya bukan nyawa?"Setelah itu, botol dan kaleng makin banyak berdatangan silih berganti.Para wartawan pun berhamburan melarikan diri. Ibu Chika merangkul putrinya dengan mengenaskan, mereka berusaha menghindari serangan yang datang bertubi-tubi bagaikan hujan dan melarikan diri layaknya tikus got. Dari balik layar, aku menikmati tontonan lelucon ini dengan perasaan puas.Yoga meneleponku, suaranya terdengar sedikit lemah yang tidak biasa. "Ada lagi yang kamu butuhin dari aku? Masukin saja ke paket perceraian, aku nggak bakal narik biaya tambahan kok."Aku mencoba mengingat kembali apa yang belum kuselesaikan. "Ehm, aku minta tolong, kalau nanti aku meninggal, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarin Andi mengurungku,

  • Di Ujung Senja   Bab 5

    "Donor ginjal?"....Aku mendengarkan suara dari luar dan hanya merasa berisik, lalu aku mengulurkan tangan untuk menekan tombol panggilan di samping tempat tidur.Detik berikutnya, Andi segera merangsek masuk dan menyentuh wajahku dengan ekspresi cemas. "Kamu akhirnya bangun juga, gimana badanmu, ada yang sakit nggak?"Aku memalingkan wajah dan berkata dengan dingin, "Kamu tanda tangani saja surat cerainya, aku muak lihat wajahmu."Andi seolah tidak memedulikan kata-kataku yang dingin itu.Dia menggenggam tanganku lalu mengeluarkan sebuah cincin dari saku dan memasukkannya paksa ke jari manisku sambil berkata lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang kenapa nggak minta sama aku? Besok-besok jangan jual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah di atas ranjang tanpa memedulikan jarum infus yang masih tertancap di tangan satunya. Aku mencabut cincin yang dipaksakannya itu lalu melemparkannya sekuat tenaga."Andi, aku mau cerai sama kamu, aku ma

  • Di Ujung Senja   Bab 4

    Suatu siang setengah bulan kemudian, aku sudah menetap di sebuah kota kecil di tepi pantai.Aku menjual cincin kawinku dan mendapatkan uang yang cukup banyak. Aku pun menghabiskan hari-hariku dengan menikmati makanan lezat serta pemandangan indah.Beberapa bagian tubuhku sesekali terasa sakit. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, jadi aku menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.Sambil berbaring di kursi pantai dan mendengarkan suara deburan ombak, aku merasa belum pernah hidup sebebas dan senyaman ini selama 27 tahun terakhir.Seseorang tampak berjalan menghampiriku di atas pasir, dia adalah Yoga Pratama, pengacara perceraianku.Katanya dia punya julukan Dewa Kekayaan di kalangan hukum. Selama uangnya cukup, dia bakal menerima kasus siapa pun. Memang hanya dia yang berani menerima kasus perceraianku.Pria ini terlihat urakan dengan fitur wajah yang bahkan lebih cantik dari wanita. Dua kancing teratas kemejanya selalu dibiarkan terbuka, membuatn

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status