“Apa Anda tidak sedang membohongiku, Tuan?” tanya Emily dengan pelan.Thomas menggelengkan kepalanya perlahan dengan raut wajah penuh penyesalan yang mendalam. Ia menarik napas panjang, menatap jemari Emily yang kini melingkari logam perak dingin tersebut dengan saksama.“Aku tidak akan berbohong padamu, Emily,” aku Thomas, suaranya terdengar berat dan tulus.“Aku sendiri tidak tahu isi mendalam dari dokumen rahasia di barak timur tersebut. Lemari besi milik mendiang Duke sepuh dirancang dengan mekanisme pengunci silinder ganda yang rumit, dan ia hanya bisa dibuka dengan kunci perak yang kini telah kuserahkan ke tanganmu. Aku tidak pernah memiliki hak ataupun keberanian untuk memutarnya.”Emily menurunkan pandangannya, menatap ukiran rumit pada pangkal kunci itu sebelum rasa penasaran yang lain mendadak mencuat di kepalanya. Ia menegakkan punggung, menatap Thomas dengan sorot mata menyelidik yang tajam.“Tuan Thomas, ada satu hal lagi yang mengusikku,” ujar Emily, menyipitkan matanya.
Read more