Sienna menahan napasnya, mengunci pandangan pada pintu besi berlapis kayu yang menjadi satu-satunya penghalang mereka dari lorong luar. Edward, yang beruntung telah tertidur pulas di atas sofa antik berbahan beludru usang karena kelelahan setelah ketakutan tadi, bernapas dengan teratur.Pelukan bocah itu pada mainan kereta kayunya sama sekali tidak melonggar, membuatnya untungnya tidak perlu mendengar ketegangan yang kian mencekik di ruangan tersebut.Sienna mendekatkan wajahnya ke telinga Rose, berbisik dengan suara parau yang sarat akan beban moral yang menghimpit pundaknya. “Rose... dengar itu. Mereka berada tepat di balik dinding ini.”“Tenang, Sienna. Jangan bergerak sedikit pun,” balas Rose, suaranya nyaris tak terdengar, namun matanya tetap waspada menatap panel kamuflase.“Bagaimana aku bisa tenang?” Sienna meremas jemari Rose, matanya berkaca-kaca dipenuhi rasa bersalah yang amat dalam.“Lucien sedang mempertaruhkan segalanya saat ini. Nyawanya, gelar Duke yang disandangnya,
Read more