Lucien melepaskan pagutan bibirnya perlahan, meninggalkan napas Sienna yang memburu di udara kamar yang hangat. Dengan rahang yang mengetat menahan kejengkelan, sang Duke merapikan kerah kemeja tingginya lalu berjalan mantap menuju pintu utama ruang kerja.CEKLEK.Kunci besi berputar, dan pintu kayu ek itu terbuka lebar. Harry melangkah masuk dengan terburu-buru, diikuti oleh Thomas, asisten pribadi Lucien yang membawa tabung kulit berisi gulungan kertas besar.Wajah kedua pria itu tampak kuyu, pertanda mereka belum memejamkan mata sejak fajar menyingsing."Kuharap telegraf darurat ini sebanding dengan ketukan lancangmu, Harry," tegur Lucien, suaranya dingin dan berwibawa sembari melangkah kembali ke meja tengah."Ini jauh lebih serius daripada sekadar gertakan Albert, Tuan Duke," sahut Harry seraya memberi isyarat kepada Thomas untuk membentangkan selembar cetak biru besar di atas meja mahogani.Sienna berjalan perlahan dari arah jendela, merapatkan morning gown sutranya, lalu mendud
Read more