Keheningan yang berat kembali merayap, menjajah setiap sudut ruang kerja Duke Lucien begitu Mayor Silas Thorne menyelesaikan laporannya yang mengerikan.Di luar jendela gotik, langit Utara perlahan berubah kelabu keperakan, membawa hawa sedingin es yang menyusup lewat celah-celah ventilasi besi.Atmosfer di dalam ruangan itu terasa begitu pekat, kental dengan aroma tajam tinta telegraf yang baru saja dicetak, berbaur dengan kepulan asap cerutu Kuba milik Lucien yang merayap lambat ke langit-langit.Di sudut ruangan, suara gemeretak konstan dari mesin tik mekanis yang sedang dioperasikan oleh salah satu juru tulis di balik sekat kayu terdengar bagai detak jam kematian, begitu konstan, kaku, dan sarat akan nuansa historis awal abad ke-1900.Lucien tidak membuang waktu untuk tenggelam dalam amarah yang tidak taktis. Dengan ketenangan yang justru teramat mengintimidasi, gaya khas seorang tiran militer yang telah memenangkan belasan pertempuran di perbatasan, ia kembali melangkah mendekati
Read more