"Tetap di belakangku, Sienna!" teriak Lucien, suaranya baritonnya menembus deru angin malam dan gemeretak kayu yang terbakar.Tanpa memedulikan hawa panas yang menyengat kulit, Lucien melepas jubah militer hitamnya, membasahinya dengan sisa salju di tanah, lalu menerobos masuk melewati bingkai pintu gudang arsip yang mulai runtuh.Sienna, menolak untuk menjadi penonton yang pasif, melilitkan syal wolnya ke hidung dan mulut, lalu ikut melangkah masuk ke dalam tungku api tersebut.Di dalam ruangan, asap hitam bergulung-gulung mencekik paru-paru. Rak-rak kayu mahogani kuno bergaya awal abad ke-20 runtuh satu per satu, menumpahkan ratusan berkas berharga yang langsung menjadi abu.Dengan aksi heroik yang menantang maut, Lucien menggunakan kekuatan fisiknya untuk menendang tiang kayu yang membara yang menghalangi jalan mereka, sementara Sienna dengan mata yang perih dan berair langsung menuju ke sudut terdalam ruangan. Di sana, di balik dinding batu ganda, terdapat sebuah brankas besi bera
Read more