Share

28. RUNTUHNYA TOPENG IBU PERI

Penulis: FWW
last update Tanggal publikasi: 2026-05-19 11:16:14

Cahaya matahari pagi yang menerobos celah gorden apartemen terasa seperti sembilu yang menyayat mata Mariska.

Ia terbangun bukan oleh alarm musik klasik yang lembut, melainkan oleh getaran ponsel yang tak henti-henti di atas nakas, berderu layaknya serangga kelaparan yang mengerumuni bangkai.

Dengan tangan gemetar dan kepala yang berdenyut hebat akibat depresi dan kurang tidur, Mariska meraih benda itu.

​Satu notifikasi dari akun gosip Lambe Elit m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   28. RUNTUHNYA TOPENG IBU PERI

    Cahaya matahari pagi yang menerobos celah gorden apartemen terasa seperti sembilu yang menyayat mata Mariska. Ia terbangun bukan oleh alarm musik klasik yang lembut, melainkan oleh getaran ponsel yang tak henti-henti di atas nakas, berderu layaknya serangga kelaparan yang mengerumuni bangkai. Dengan tangan gemetar dan kepala yang berdenyut hebat akibat depresi dan kurang tidur, Mariska meraih benda itu. ​Satu notifikasi dari akun gosip Lambe Elit muncul di layar terkunci: "EKSKLUSIF: Rekaman Suara 'Ibu Peri' Mariska. Apakah ini wajah asli sang aktivis anak?" ​Jantung Mariska seolah berhenti berdetak. Ia menyentuh tautan itu dengan ujung jari yang dingin. Sebuah video dengan latar belakang hitam mulai berputar. Suara yang keluar dari sana adalah suara yang sangat ia kenali. Suaranya sendiri, namun dalam nada yang tidak pernah ia tunjukkan di depan kamera. ​"Diam, Marion! Hapus air

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   27. SEKUTU YANG MENGUNTUNGKAN

    Musuh dari musuhku adalah temanku. Seperti itu perumpamaannya.Helena mengayunkan gelas kristal berisi cairan amber itu perlahan, memperhatikan bagaimana pantulan lampu galeri menari di permukaannya.Di depannya, sebuah lukisan abstrak berukuran raksasa dengan sapuan warna merah darah dan hitam jelaga tampak seolah sedang menelan ruangan itu. Galeri seni pribadi miliknya ini adalah tempat di mana keheningan terasa seperti kemewahan yang mahal, namun malam ini, keheningan itu terasa lebih tajam.Langkah kaki yang hampir tak terdengar bergema di lantai granit. Helena tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Hanya ada satu orang di kota ini yang bisa masuk ke tempat pribadinya tanpa memicu alarm, dan hanya ada satu orang yang memiliki aura sedingin musim dingin di Siberia."Kau tepat waktu, Reihan," ucap Helena tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan. Suaranya tenang, namun ada getaran otoritas yang tidak bisa dibantah.Reihan m

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   26. PERTARUNGAN REIHAN & BIMO

    Samsak tinju seberat delapan puluh kilogram berayun liar di tengah sasana yang remang-remang, dihantam oleh pukulan beruntun yang membabi buta.Bugh! Bugh! Bugh!Suaranya menggema di ruangan luas yang kini terasa seperti kuburan. Bimo, sang mantan juara nasional yang kini hanya menjadi paria olahraga, terus memukul hingga buku jarinya memerah dan pecah.Peluh membanjiri tubuhnya yang kekar, bercampur dengan aroma alkohol yang menguap dari pori-porinya.Sejak lisensi pelatihnya dicabut dan video skandal kecurangannya viral, sasana ini menjadi satu-satunya tempat persembunyiannya. Ia ingin menghancurkan sesuatu. Ia ingin mematahkan leher seseorang.Langkah kaki yang tenang terdengar di atas lantai kayu yang berderit. Iramanya lambat, konstan, dan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.Bimo menghentikan pukulannya. Ia memeluk samsak itu, dadanya naik-turun dengan napas yang memburu. Di ambang pintu, seorang pria berdiri tegap. Ca

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   25. KEBANGKRUTAN MARISKA

    Mariska menghantamkan tas Birkin kulit buaya berwarna zamrud ke atas meja rias marmernya dengan tenaga yang menyisakan bunyi berdebam hampa.Ia tidak lagi membelainya dengan sarung tangan sutra. Ia mencengkeramnya seolah ingin mencekik benda mati itu.Di sekelilingnya, istana yang dulu ia banggakan kini terasa seperti makam yang menunggu untuk ditutup. Lampu kristal di tengah ruangan hanya berkedip-kedip redup, sisa dari daya listrik yang belum diputus paksa oleh perusahaan negara."Lima puluh juta?" suara Mariska melengking, bergetar di ambang histeria. "Tas ini harganya setara dengan satu unit apartemen di pusat kota saat aku membelinya! Kau mencoba merampokku di rumahku sendiri?"Di depannya, duduk seorang wanita paruh baya bernama Madam Lusi, seorang tengkulak barang mewah yang dikenal dingin. Ia menyesap teh dari cangkir porselen milik Mariska yang kini sedikit retak di bagian pinggirnya."Dunia sudah berubah, Mariska," sahut Madam L

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   24. RENTENIR ARDIAN

    Ardian menghantamkan kepalan tangannya ke dinding ruko yang berkerak, meninggalkan noda debu pada buku jarinya yang gemetar. Bau pesing dari gang sempit di samping bangunan itu menusuk hidungnya, beradu dengan aroma amis dari selokan yang tersumbat.Ia, Ardian Pratama, pria yang dulunya hanya butuh satu jentikan jari untuk mencairkan kredit miliaran rupiah, kini harus berdiri mengantre di sebuah kantor "pembiayaan cepat" yang lebih mirip sarang penyamun daripada lembaga keuangan."Selanjutnya!" teriak sebuah suara parau dari dalam.Ardian merapikan kerah kemeja mahalnya yang kini tampak lusuh dan tak lagi licin. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan pengap yang dipenuhi asap rokok murah.Di balik meja kayu jati yang sudah terkelupas permukaannya, duduk seorang pria bertubuh gempal dengan tato naga yang melilit hingga ke lehernya. Bang Jago, begitu orang-orang menyebutnya.Bang Jago tidak mendongak. Ia sibuk menghitung tumpukan uang kertas k

  • IBLIS BERMATA BIRU ( Pembalasan Sang Hantu Digital )   23. MALAIKAT PENYELAMAT MARION

    Reihan bergerak tanpa suara, menyatu dengan kegelapan koridor lantai dua yang hanya diterangi lampu dinding temaram yang berkedip.Di bawah sana, di lantai utama, sayup-sayup terdengar suara tawa melengking yang pecah menjadi tangis histeris. Suara Mariska yang sedang bertarung dengan hantu-hantu di kepalanya sendiri.Reihan tidak menoleh. Fokusnya tertuju pada sebuah pintu kayu ek putih yang terkunci rapat dari luar, sebuah sangkar emas yang menyembunyikan dosa paling busuk dari sang "Ibu Peri".Jari Reihan menari di atas layar ponselnya, meretas sistem kunci elektronik pintu tersebut dalam hitungan detik. Klik. Bunyi kecil itu terdengar seperti ledakan di tengah kesunyian rumah yang mencekam.Reihan mendorong pintu itu pelan. Udara di dalam kamar tercium seperti wangi lavender yang bercampur dengan rasa takut yang pekat. Di sudut tempat tidur besar yang tampak terlalu luas untuk tubuh mungilnya, Marion meringkuk. Gadis kecil itu memeluk lututnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status