"Brengsek!" umpat Jacob murka.Setelah mengumpati putranya, Jacob dengan bantuan tongkat yang ada di tangannya langsung menghampiri Jennifer yang masih duduk di lantai. Rahangnya mengeras melihat kondisi cucunya, wajah Jennifer memerah dan terlihat jelas bekas tamparan di sana, belum lagi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Yang membuat pria tua itu semakin ngeri adalah tatapan lelah cucunya dan juga air mata yang bercucuran di sana."K-Kakek," bibir Jennifer melengkung ke bawah, bahunya terguncang diiringi dengan suara isakan tangis yang terdengar memilukan. "Mereka j-jahat, Kek. Papi menyesal punya anak kayak aku, apa lebih baik aku mati aja ikut Mami? Nggak ada yang menginginkan aku di sini, aku ng—""Sttt," Jacob menarik tubuh cucunya ke dalam pelukannya. "Kamu nggak boleh berbicara seperti itu lagi, jangan dengarkan omongan lelaki sialan itu. Kamu masih punya Kakek yang selalu menyayangi serta menginginkan kamu untuk tumbuh dan hidup bahagia.""Yah, Ayah salah paham. Aku ngg
Read More