Sorot mata Jennifer terlihat malas namun tetap tajam, menusuk tanpa emosi. Kata-katanya seperti pisau yang menusuk tepat di jantung Ratih dan Anna.Ketika Anna ingin menjawab, bibirnya sempat terbuka namun menutup lagi. Dia gemetar ketakutan saat bertatapan dengan Jennifer.Jennifer malah terkekeh pelan. "Padahal semua yang aku ucapin tadi itu fakta. Kalau Mama kamu ngerasa terhina, ya jangan salahin aku. Udah tahu perbuatannya hina kenapa masih dilakuin? Giliran kayak gini malah playing victim. Sok tersakiti, padahal dia pelakunya."Mikail mengertakkan rahang. Ratih menunduk makin dalam. Anna menggigit bibirnya, menahan air mata."Manusia-manusia kayak kalian ini... apa sih aku nyebutnya?" Jennifer mengetuk dahinya pura-pura berpikir. "Em, drama queen. Eh? Lumayan cocok, walaupun agak kebagusan sih menurutku."Jennifer tertawa ringan, sangat tidak kontras dengan wajah-wajah tegang di sekelilingnya."Berhenti, Kak," lirih Anna akhirnya, suaranya parau. "Apa selama ini Kak Jennifer bel
Read more