로그인Kepala Prana bergerak naik, meninggalkan area paha dalam Shanum yang masih menyisakan jejak basah. Pria itu berdiri tegak di antara kedua kaki Shanum, menatap lurus ke matanya yang sayu.“Siap untuk sajian utama, sayang?” bisik Prana. Tangan kanannya bergerak ke pinggang, melepas kaitan celana panjangnya sendiri dengan satu gerakan mantap.Shanum terengah-engah, tubuhnya terkulai lemas di atas meja bar kayu setelah pelepasan intens yang baru saja menghentak seluruh sarafnya. Napasnya naik turun tak beraturan, sementara dadanya naik turun dengan cepat.Tanpa aba-aba Prana menyusupkan kedua lengan kekarnya ke bawah ketiak dan lipatan lututnya. Dengan satu sentakan kuat, Prana mengangkat tubuh polos Shanum ke dalam gendongan. Shanum memekik pelan, refleks mengalungkan kedua lengannya ke leher kokoh Prana, menyembunyikan wajahnya yang merah padam di sana.“Kemana, Mas?”“Tempat yang lebih nyaman.”Prana melangkah lebar keluar dari area dapur, melewati ruang tengah, menuju kamar tidur utam
“Mau dimana sayang?” Tangan Prana terus membelai paha dan menyusup lebih dalam pada area sensitif Shanum. Sensasi panas yang dihantarkan oleh gerakan tangan Prana seketika meruntuhkan seluruh sisa logika yang melekat di kepala Shanum.“Euh… dimana… saja,” jawab Shanum sudah tak mampu berpikir.“Disini aja gimana?” gumam Prana sambil terus menggoda membelai milik Shanum di balik kain tipis penghalangnya, yang membuat napas Shanum terputus-putus.Tak bisa menjawab lagi, Shanum hanya bisa membenamkan wajahnya di ceruk leher Prana. Menggigit pelan kulit bahu pria itu untuk menahan lenguhan yang nyaris lolos dari bibirnya. Detak jantungnya berkejaran dengan belaian jemari Prana yang kian menuntut.Ia kembali meraup bibir Shanum, membawa mereka berdua tenggelam dalam gairah, tak memedulikan lagi batasan hukum dan peringatan Hendra di luar sana. Tangan Prana mulai menarik seluruh dress rumahan Shanum, meninggalkan bra dan celana dalam brokat merah.Prana melepaskan pagutan bibir mereka seje
“Jika hakim pengadilan tinggi menerima alasan mereka, putusan cerai kalian bisa dibatalkan, dan status pernikahanmu dengan Fadil dinyatakan tetap sah dan belum putus.” Kalimat itu menolak pergi dari kepala Shanum.Sudah hampir satu jam ia berada di dapur apartemen Prana, tetapi pikirannya masih tertinggal di kantor Hendra. Air sup mendidih. Sayuran semakin layu. Bahkan Asap tipis mulai mengepul dari pinggiran panci, membawa bau gosong yang menyengat.“Gimana kalau semua itu sampai kejadian?” pikiran Shanum gelisah.“Mikirin apa?” Sebuah tangan kekar tiba-tiba melewati samping tubuh Shanum, memutar kenop kompor hingga mati.Detik berikutnya, tangan itu melingkar erat di pinggang Shanum, menarik punggungnya hingga menempel pas pada dada bidang di belakangnya. Shanum tersentak, mengerjapkan mata berulang kali baru menyadari kalau masakannya sudah hampir gosong.“Eh… gosong.”Prana menyandarkan dagunya di bahu Shanum, lalu mengecup sisi leher wanita itu dengan lembut, lama dan hangat.“J
“Kalau soal Malik, aku gak akan memanggil kalian kemari.” Hendra mengangguk pelan ke arah map di tangan Prana. “Yang membuatku khawatir ada di lembar berikutnya. Coba lihat.”Dengan cepat Prana mengambil lembaran terakhir itu. Tubuhnya kaku, urat di lehernya menegang. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Shanum perlahan mendekat. Matanya melebar begitu melihat foto tersebut. Tubuhnya langsung kehilangan tenaga."Mas..." Suaranya nyaris tak terdengar.Di lembar berkas yang lain, ada foto Prana dan Shanum tengah berjalan-jalan di toko antik. Mereka difoto dari kejauhan melalui celah jendela kaca toko. Di foto itu, Prana sedang menggengam tangan Shanum sambil tersenyum, sebuah gestur yang terlalu intim untuk disebut sebagai teman.“Ini kan waktu kita mencari pajangan untuk klinik baru, Mas?” tanya Shanum, suaranya bergetar.Prana tetap diam. Tatapannya justru tertuju pada uraian yang tercetak di bawah foto itu. Semakin jauh ia membaca,
“Kenapa kita ke sini, Mas?” Shanum terkejut begitu mobil Prana terparkir di depan kantor Hendra.Kantor hukum milik Hendra—pengacara Shanum sekaligus sahabat Prana—berdiri megah di hadapan mereka. Shanum tak menyangka bahwa pelarian mereka dari kafe dan mampir sejenak di minimarket akan berujung ke tempat ini.“Ada yang perlu dibicarakan,” jawab Prana singkat sambil mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan kembali merayap di antara mereka.Shanum mengingat kembali pesan yang dikirimkan Fadil sebelumnya. Perasaan tenang yang tercipta beberapa lalu di minimarket mendadak jadi terasa tegang kembali. Dadanya bergemuruh, mengingat foto dokumen gugatan pembatalan cerai yang dikirimkan mantan suaminya itu.“Apa ini soal pengajuan banding perceraian aku?” tanya Shanum, mencoba menebak dengan nada sangsi.Prana menghentikan gerakannya yang hendak membuka sabuk pengaman. Ia memutar tubuh, kembali memfokuskan pandangan pada Shanum. Dahinya berkerut dalam, menatap Shanum dengan sorot mata men
“Ada apa sebenarnya semalam, setelah aku pergi ke rumah sakit?”Prana melontarkan pertanyaan itu begitu mobilnya keluar dari area kafe, jari-jarinya mengeratkan setir dengan nada bicaranya lebih keras dari biasanya. Shanum duduk di sampingnya, mata Prana tajam tetap fokus pada jalanan depan, rahangnya mengeras.Shanum terdiam sebentar memperhatikan wajah Prana. Mata pria itu menyipit, otot pipi yang berkedut halus. Prana sedang marah.“Kamu ketemu dia?” lanjut Prana tanpa menunggu jawaban. “Gandi? Adik bajingan itu?”“Iya,” jawab Shanum tenang.“Sendirian?”“Enggak. Dia—”"Apa itu alasan kamu gak angkat telepon?" Prana memotong terdengar kesal."Kenapa kamu gak bilang mau menemui adik bajingan itu?" tanya Prana lagi, tanpa menunggu Shanum menjawab rentetan pertanyaan sebelumnya. "Apa yang kalian bahas?""Mas..." panggil Shanum lembut. Ia memberanikan diri memegang lengan Prana yang kaku saat mencengkeram setir. "Aku harus jawab yang mana dulu?"Shanum bertanya tanpa merasa terintimida
Shanum membuka mata dengan kepala berat. Tenggorokannya kering, sementara tubuhnya terasa ringan. Ingatannya tentang semalam di mobil Prana datang terlalu jelas. Ciuman Prana. Tangannya. Bisikan pria itu di telinganya.“Kalau kamu belum siap dengan konsekuensinya...”Shanum buru-buru menarik selimu
“Sus, masih ada pasien berikutnya?” tanya Prana tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Jemarinya masih lincah menari di atas keyboard, merapikan observasi klinis terakhir.Pintu ruangan terbuka sedikit, menampakkan kepala Mira. “Masih ada satu lagi, Dok. Katanya sudah di jalan.”Prana meng
“Kamu masih bisa mundur sekarang,” bisik Prana serak dan rendah, “kalau tidak, aku gak akan melepaskanmu.”Wajah Prana semakin mengikis jarak hingga Shanum bisa merasakan embusan napas hangat pria itu menerpa permukaan kulitnya. Prana memiringkan kepalanya sedikit, sebuah gestur predator yang sedan
“Aneh. Ini terlalu mencurigakan,” gumam Shanum.Ia tengah duduk bersandar di kepala ranjang, jemarinya lincah memeriksa riwayat panggilan dan pesan di ponselnya. Tak ada satu pun notifikasi dari Fadil.Fadil bukan tipe pria yang menelan harga diri. Dia akan menyerang balik dengan rentetan cacian at







