“Shanum, kita pulang! Ada yang perlu kita bicarakan!” tegas Prana, tak ingin dibantah. Dibukakannya pintu penumpang depan, menatap Shanum lurus sampai wanita itu akhirnya menurut dan masuk.Prana menutup pintu, berjalan memutar ke balik kemudi, menyalakan mesin, memundurkan mobil cepat keluar dari jalan depan rumah Bobby.Sambil mendekap erat tas jinjingnya di pangkuan, Shanum tetap bungkam. Jujur ia merasa sangat kesal dengan Prana. Kenapa semalam pria itu tak memberinya kabar tidak pulang, yang membuat Shanum terjaga semalaman, khawatir terjadi sesuatu.“Kenapa ponsel kamu dimatikan, Num?” tanya Prana, tangan kirinya memegang kemudi, tangan kanannya terulur mencoba menyentuh jarinya.“Abis baterai,” jawab Shanum pendek, menarik tangannya pelan.“Kenapa gak kabarin aku kalau kamu mau ke rumah orang tua kamu? Aku khawatir daritadi, Sayang,” Prana melirik sekilas.“Gak sempat,” jawab Shanum, matanya lurus ke jalanan di balik kaca depan, datar tanpa emosi.Otot rahang Prana mengetat sam
Read more